Bacatrend, Kediri – Sebuah patung macan putih yang baru dibangun di simpang tiga Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak viral di media sosial. Patung ini sejatinya dimaksudkan sebagai ikon desa menggantikan pohon beringin tua, dengan makna simbolik karena macan putih diyakini sebagai hewan yang menemani para sesepuh saat membuka desa. Namun, wujud patung justru menimbulkan kebingungan publik karena dianggap tidak menyerupai macan.

Bentuk wajah patung dinilai tidak proporsional, hidung terlalu besar, ekspresi kaku, dan cat belang yang menimbulkan kesan berbeda. Warganet pun ramai-ramai memberi tafsir lain: ada yang menyebut mirip zebra, ada yang menganggapnya seperti badak, bahkan ada yang bercanda menyebutnya capybara atau babi hutan. Tulisan “Patung Macan Putih” di pondasi justru mempertegas kontras antara label dan bentuk yang terlihat.

Komentar netizen bertebaran di media sosial. “Kalau ini macan, berarti saya badak putih,” tulis seorang pengguna TikTok. Ada pula yang menyindir, “Patung ini kayak capybara lagi cosplay zebra.” Tak sedikit yang menyoroti anggaran pembangunan, meski kemudian diketahui bahwa biaya hanya sekitar Rp 2 juta hasil swadaya warga, bukan dana desa. Di sisi lain, sebagian masyarakat tetap menghargai niat baik menghadirkan ikon baru meski hasilnya dianggap kurang artistik.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana niat baik menghadirkan simbol budaya bisa berbalik menjadi viral karena eksekusi visual yang tidak sesuai ekspektasi publik. Meski menuai kritik dan candaan, patung macan putih tetap menyimpan nilai historis bagi warga Desa Balongjeruk. Kasus ini sekaligus menjadi pelajaran penting bahwa keterlibatan seniman profesional dalam proyek publik dapat memastikan hasil yang tidak hanya bermakna, tetapi juga estetis.