CeritaNgeTrend – Pada suatu masa di Baghdad, Khalifah Harun al-Rasyid dikenal sebagai penguasa yang bijak namun juga gemar menguji kecerdikan orang-orang di sekitarnya. Ia sering memanggil Abu Nawas, penyair sekaligus jenaka yang terkenal dengan akal cerdasnya. Suatu hari, sang khalifah jatuh sakit ringan. Tubuhnya terasa pegal, kepala berat, dan ia sering bersendawa. Para tabib istana menyebutnya “masuk angin”—istilah yang dalam tradisi Timur Tengah maupun Nusantara merujuk pada kondisi badan tidak enak akibat angin yang dianggap masuk ke tubuh.

Khalifah merasa jengkel dengan sakitnya itu. Ia ingin menguji Abu Nawas sekaligus mencari hiburan. “Abu Nawas,” kata sang khalifah, “aku terkena penyakit aneh. Para tabib bilang aku masuk angin. Aku ingin engkau menyembuhkan aku, tapi bukan dengan ramuan atau obat. Gunakan akalmu yang terkenal itu.”

Abu Nawas tersenyum. Ia tahu bahwa khalifah sebenarnya ingin dihibur, bukan sekadar disembuhkan. Ia lalu berkata, “Tuanku, masuk angin bukanlah penyakit yang mematikan. Ia hanya tanda bahwa tubuh sedang lelah dan butuh istirahat. Namun jika Tuanku ingin sembuh dengan cara yang berbeda, izinkan hamba menangkap angin yang masuk itu dan mengusirnya keluar.”

Khalifah tertawa kecil, penasaran dengan maksud Abu Nawas. “Bagaimana mungkin kau bisa menangkap angin?” tanyanya.









Abu Nawas pun membawa sebuah kantong besar dari kain. Ia berlari ke halaman istana, mengibaskan kantong itu ke udara, lalu menutupnya rapat. Dengan penuh keseriusan ia kembali ke hadapan khalifah. “Tuanku, inilah angin yang hamba tangkap. Jika Tuanku membuka kantong ini, maka angin yang membuat sakit akan keluar, dan tubuh Tuanku akan lega.”

Khalifah membuka kantong itu, tentu saja hanya udara kosong yang keluar. Namun ia merasa terhibur, tertawa terbahak-bahak, dan tubuhnya terasa lebih ringan. Para tabib pun berkata, “Tertawa adalah obat terbaik. Abu Nawas telah menyembuhkan Tuanku dengan caranya sendiri.”

Cerita ini, yang dalam berbagai versi rakyat Arab dan adaptasi Nusantara sering muncul, menekankan bahwa Abu Nawas menggunakan humor dan kecerdikan untuk mengatasi masalah. Ia tidak melawan dengan logika medis, tetapi dengan akal jenaka yang membuat khalifah lupa sakitnya.