Bacatrend, JAKARTA – Lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut akibat varian influenza A H3N2 atau yang dikenal sebagai “superflu” tengah menjadi perhatian di Indonesia. Meski bukan virus baru, varian ini menunjukkan tingkat penularan yang lebih cepat dan gejala yang lebih berat dibanding flu musiman biasa, terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita komorbid.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut varian H3N2 yang bersirkulasi saat ini termasuk dalam clade 3C.2a1b.2a.2a.3a.1, dan telah terdeteksi sejak akhir Desember 2025. “Masyarakat perlu waspadai adanya peningkatan kasus influenza penyebab infeksi saluran pernapasan akut, di antaranya varian H3N2 yang viral dengan istilah ‘superflu’,” ujar dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K), dari Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI.

Gejala superflu meliputi demam tinggi, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada anak-anak, gejala bisa disertai muntah atau diare, sementara pada lansia dan penderita penyakit kronis, flu ini berisiko berkembang menjadi pneumonia atau bronkitis.

Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi bahwa varian ini telah ditemukan melalui pemeriksaan genomik oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan. “Influenza A (H3N2) subclade K telah ditemukan di Indonesia. Meski belum terbukti lebih ganas, penularannya sangat cepat,” kata Plt. Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine.









Epidemiolog Universitas Airlangga, Dr. Windhu Purnomo, menyebut superflu sebagai ancaman musiman yang perlu direspons cepat. “Superflu ini bukan hanya cepat menyebar, tapi juga bisa memicu lonjakan kasus dalam waktu singkat jika tidak dikendalikan,” ujarnya.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk memperkuat protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menghindari kerumunan. Vaksinasi influenza juga disarankan, terutama bagi kelompok rentan.

“Flu tak bisa dianggap sepele, terutama saat H3N2 meningkat. Vaksinasi dan proteksi perilaku tetap relevan,” tegas dr. Nastiti.

Meski belum mencapai status kejadian luar biasa, sejumlah rumah sakit mulai mencatat peningkatan kunjungan pasien dengan gejala ISPA. Pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dan memperkuat sistem pelaporan epidemiologi.