Bacatrend, BULELENG – Senin pagi yang semula biasa di simpang empat Jalan Laksamana–Serma Karma, Desa Baktiseraga, mendadak berubah menjadi panggung tragedi yang menyayat hati. Made Serina (59), pensiunan aparatur sipil negara, melaju dengan sepeda motor Honda Beat bernomor polisi DK 6662 UAL. Tak ada yang menyangka, perjalanan singkat itu berakhir dengan drama pencarian panjang yang kini menyita perhatian warga Buleleng.

Sekitar pukul 09.00 Wita, motor yang dikendarai Made diduga kehilangan kendali. Tubuhnya terhempas ke saluran air di tepi jalan. Dalam sekejap, arus deras menyeretnya, menelan sosok manusia ke dalam perut gorong-gorong yang gelap dan berliku. Seperti ditelan bumi, korban hilang tanpa jejak.

Tim SAR Buleleng bergerak cepat. Gorong-gorong dibongkar, saluran air ditutup, sungai disisir dengan perahu karet. Koordinator Pos SAR, Kadek Donny Indrawan, menggambarkan betapa sulitnya pencarian ini. “Kami fokus pada dua jalur aliran, ke barat dan ke utara. Ada rongga-rongga di bawah bangunan yang bisa saja menjadi tempat korban tersangkut. Kami bahkan harus berkoordinasi dengan Dinas PU untuk menutup saluran,” ujarnya.

Namun, pencarian bukan sekadar operasi teknis. Ia berubah menjadi drama kemanusiaan. Warga berkerumun, menatap aliran air dengan cemas, berharap ada keajaiban. Setiap bongkaran gorong-gorong, setiap sorotan lampu ke saluran gelap, menjadi detik-detik penuh harapan sekaligus ketakutan.









Tragedi ini menyingkap wajah lain dari kota yang tenang. Gorong-gorong yang biasanya hanya jadi jalur air kini menjelma monster yang menelan nyawa. Infrastruktur yang rapuh, saluran tanpa pengaman, dan derasnya arus hujan menjadi kombinasi maut.

Made Serina bukan sekadar korban kecelakaan. Ia kini simbol betapa rapuhnya keselamatan di jalanan kita. Peristiwa ini mengingatkan bahwa di balik rutinitas pagi, ada bahaya yang mengintai, tersembunyi di balik beton dan air yang mengalir.

Pencarian masih berlanjut hingga Selasa ini. Jika tubuh korban tak segera ditemukan, tim SAR akan memperluas pencarian hingga muara sungai di pesisir utara Buleleng. Sebuah perjalanan panjang, menembus gelapnya gorong-gorong, demi menemukan satu nyawa yang hilang.