Bacatrend, Jambi – Insiden pengeroyokan terhadap seorang guru oleh muridnya di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, memicu keprihatinan publik dan sorotan tajam terhadap kondisi disiplin di lingkungan sekolah.

Kejadian ini disebut terjadi pada Selasa pagi, 13 Januari 20. Peristiwa ini melibatkan Agus Saputra, guru mata pelajaran produktif, yang diserang secara fisik oleh sejumlah siswa setelah menegur salah satu dari mereka karena ucapan tidak pantas.

Agus mengaku bahwa insiden tersebut bukanlah yang pertama. “Saya sudah lama jadi sasaran perundungan, baik verbal maupun sikap tidak hormat dari beberapa siswa. Hari itu saya hanya menegur, tapi mereka langsung menyerang,” ujarnya.

Agus menambahkan bahwa ia sempat menampar siswa yang melontarkan kata-kata kasar sebagai bentuk refleks, namun tidak menyangka akan berujung pada pengeroyokan.









Video kejadian yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Agus dikerumuni dan diserang oleh beberapa siswa di halaman sekolah. Dalam video lain, ia terlihat mengacungkan celurit untuk membubarkan kerumunan, sebuah tindakan yang kemudian juga menuai kontroversi. “Saya tidak berniat melukai, hanya ingin menyelamatkan diri. Saya terdesak,” kata Agus dalam klarifikasinya.

Dinas Pendidikan Provinsi Jambi telah menerima laporan resmi dari Agus dan menyatakan akan melakukan investigasi menyeluruh. Kepala Dinas Pendidikan menyebut bahwa tindakan kekerasan terhadap tenaga pendidik tidak bisa ditoleransi dan akan ada sanksi tegas bagi pelaku. “Kami akan menindak sesuai aturan. Guru harus dilindungi, dan siswa harus dibina,” tegasnya.

Kasus ini memunculkan perdebatan publik tentang batas antara disiplin dan kekerasan, serta perlunya sistem perlindungan psikologis bagi guru. Banyak pihak menyoroti lemahnya kontrol terhadap perilaku siswa dan minimnya dukungan terhadap guru yang menghadapi tekanan di ruang kelas. Di sisi lain, tindakan Agus yang menampar dan membawa senjata tajam juga menjadi bahan evaluasi tentang cara penyelesaian konflik di sekolah.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa relasi antara guru dan siswa harus dibangun atas dasar saling hormat, bukan ketakutan atau kekuasaan. Ketika batas-batas itu dilanggar, baik oleh siswa maupun guru, maka yang tercoreng bukan hanya nama sekolah, tetapi juga masa depan pendidikan itu sendiri.