Bacatrend, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam hingga lebih dari delapan persen pada perdagangan Rabu (28/1). Kondisi ini memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaktifkan mekanisme trading halt untuk menahan kepanikan pasar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perlunya evaluasi segera oleh BEI. Ia menyebut evaluasi tersebut harus disesuaikan dengan permintaan lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang sebelumnya menyoroti transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia.

Airlangga ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta menyatakan bahwa langkah ini penting untuk menjaga kredibilitas pasar. “Evaluasi harus dilakukan sesuai permintaan MSCI agar pasar modal kita tetap dipercaya oleh investor global,” ujarnya.

IHSG ditutup di level 8.320,56 poin, turun 659,67 poin atau 7,35 persen dari penutupan sebelumnya di 8.980,23 poin.









Penurunan tajam ini dipicu oleh laporan MSCI yang menunda proses rebalancing dan menyoroti sejumlah aspek teknis di BEI. Akibatnya, investor asing melakukan aksi jual besar-besaran yang memicu kepanikan di lantai bursa.

Pemerintah menekankan bahwa gejolak ini bukan disebabkan faktor politik, melainkan murni teknis pasar modal. Airlangga menambahkan, fluktuasi saham adalah hal wajar, namun tekanan dari MSCI harus direspons dengan serius agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang terhadap stabilitas ekonomi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pemerintah dijadwalkan menggelar rapat koordinasi untuk membahas langkah stabilisasi pasar. Evaluasi yang diminta MSCI diharapkan mampu memulihkan kepercayaan investor dan menjaga posisi Indonesia dalam indeks global.

Kejatuhan IHSG hingga 8 persen menjadi peringatan keras bagi pasar modal Indonesia. Jika BEI mampu menyesuaikan diri dengan standar internasional, krisis ini bisa menjadi momentum reformasi struktural yang memperkuat daya tarik pasar modal nasional di mata investor global.