Bacatrend, Ngada – Di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebuah tragedi yang tak pernah terbayangkan merenggut keheningan siang pada 29 Januari 2026. Pohon cengkeh yang biasanya menjadi simbol kehidupan dan penghidupan, hari itu menjelma menjadi saksi bisu kehilangan.

Di bawah rindangnya, seorang bocah berusia 10 tahun, YBS, ditemukan tak bernyawa. Ia adalah siswa kelas IV SD, anak kecil yang seharusnya masih sibuk menulis mimpi di buku tulis, bukan menulis surat perpisahan.

Sepucuk surat yang ditinggalkan YBS menjadi potret luka yang tak kasat mata. Ditulis dengan tangan mungilnya dalam bahasa Bajawa, surat itu ditujukan kepada sang ibu, MGT.

“Mama, jangan menangis dan cari saya,” tulisnya. Kalimat sederhana itu terasa lebih tajam dari pisau, mengiris hati siapa pun yang membacanya.









Surat itu bukan sekadar kata-kata, melainkan jeritan sunyi seorang anak yang merasa dunia terlalu berat, bahkan untuk sekadar meminta pena dan buku. Sebelum tragedi, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena.

Namun sang ibu, dengan suara berat, mengatakan tak punya uang. Permintaan sederhana itu tak terpenuhi.

Buku dan pena yang harganya tak sampai Rp10 ribu, ternyata lebih mahal dari masa depan seorang bocah kecil. Kisah ini semakin memilukan ketika seorang warga, KD, yang hendak mengikat ternaknya, menemukan tubuh YBS di pohon cengkeh.

Panik, ia berlari ke jalan, berteriak meminta pertolongan. Warga berdatangan, kepolisian dihubungi, dan Desa Nenowea pun diliputi keheningan yang tak biasa.

Pohon cengkeh yang biasanya harum kini menyimpan aroma kehilangan. Kematian YBS bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi tamparan keras bagi kita semua.

Bahwa di sudut-sudut negeri, ada anak-anak yang berjuang bukan hanya melawan pelajaran sekolah, tetapi melawan kemiskinan yang mencekik. Bahwa di balik angka-angka statistik pembangunan, ada wajah-wajah kecil yang menatap masa depan dengan mata penuh harap.

Namun harapan itu bisa hancur hanya karena selembar buku tak terbeli. Tragedi ini bukan sekadar kisah duka, melainkan panggilan nurani.

Bahwa pendidikan bukanlah kemewahan, melainkan hak. Bahwa pena dan buku seharusnya menjadi jembatan menuju mimpi, bukan alasan untuk menyerah pada hidup.

Kisah YBS adalah cermin getir dari realitas yang sering luput dari perhatian. Ia mengingatkan kita bahwa di balik gemerlap kota, ada desa-desa yang masih bergulat dengan kemiskinan.

Bahwa di balik slogan pembangunan, ada anak-anak yang kehilangan harapan hanya karena kebutuhan sederhana tak terpenuhi. Sepucuk surat di pohon cengkeh itu kini menjadi simbol luka, sekaligus pengingat bahwa kita tak boleh lagi menutup mata.