Bacatrend, Jakarta – Bayern München kembali menegaskan dominasinya di kompetisi domestik setelah menyingkirkan RB Leipzig dengan skor 2-0 pada laga perempat final DFB Pokal di Allianz Arena, Rabu malam.

Pertandingan sempat berjalan dramatis sejak awal. Leipzig hampir mencuri keunggulan lewat Christoph Baumgartner, namun golnya dianulir setelah tinjauan VAR menunjukkan adanya posisi offside. Keputusan itu menjadi titik balik yang membuat Bayern semakin percaya diri untuk menguasai jalannya laga.

Di babak pertama, Bayern mencatat sejumlah peluang berbahaya. Harry Kane beberapa kali menguji refleks kiper Maarten Vandevoordt, sementara Luis Díaz juga aktif menekan dari sisi sayap. Meski begitu, pertahanan Leipzig masih mampu menahan gempuran hingga turun minum.

Momentum akhirnya datang di babak kedua. Pada menit ke-64, Bayern mendapatkan hadiah penalti setelah Josip Stanišić dijatuhkan di kotak terlarang. Kane yang maju sebagai eksekutor menuntaskan tugasnya dengan dingin, membuka keunggulan tuan rumah. Hanya berselang tiga menit, Luis Díaz menambah gol lewat penyelesaian cepat yang membuat Allianz Arena bergemuruh.









Leipzig mencoba bangkit, tetapi Bayern tampil solid di lini belakang. Upaya serangan tim tamu kerap terhenti sebelum mencapai kotak penalti. Hingga peluit akhir berbunyi, skor 2-0 bertahan dan memastikan Bayern melangkah ke semifinal.

Kemenangan ini menandai kembalinya Bayern ke empat besar DFB Pokal untuk pertama kalinya sejak 2020. Mereka bergabung dengan Bayer Leverkusen, VfB Stuttgart, dan SC Freiburg yang lebih dulu memastikan tiket semifinal. Dengan kombinasi ketajaman Harry Kane—yang kini hampir menyentuh 40 gol musim ini—dan kontribusi konsisten Luis Díaz, Bayern terlihat kembali ke jalur juara.

RB Leipzig harus menerima kenyataan tersingkir di perempat final. Meski sempat memberi perlawanan, mereka gagal mempertahankan fokus setelah gol dianulir dan tidak mampu menandingi efektivitas Bayern di babak kedua.

Semifinal DFB Pokal kini menjanjikan duel sengit. Bayern datang dengan ambisi besar mengakhiri puasa gelar, sementara Leverkusen, Stuttgart, dan Freiburg masing-masing membawa gaya permainan khas yang bisa menjadi tantangan tersendiri.