Bacatrend, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok dalam beberapa pekan terakhir ternyata memicu kemarahan besar Presiden Prabowo Subianto. Kemarahan itu bukan hanya soal fluktuasi pasar, melainkan terkait integritas dan kredibilitas pasar modal Indonesia yang dinilai terguncang setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menangguhkan peringkat Bursa Efek Indonesia (BEI).

Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa Prabowo sangat marah atas gonjang-ganjing pasar modal. “Presiden Prabowo Subianto sangat marah dengan gejolak pasar modal Indonesia karena berdampak pada investor dan menyangkut kehormatan negara,” kata Hashim.

Hashim menyoroti adanya anomali rasio price to earnings (PE) saham yang mencapai ratusan hingga ribuan kali, yang disebutnya sebagai “red flag” serius. “Ada sesuatu yang salah… harapan saya dan harapan Presiden Prabowo serta pemerintah adalah agar regulator tetap mengawasi. Ketika Anda melihat semua anomali yang konyol ini, itu adalah red flag,” tegasnya.

Kemarahan Prabowo berujung pada desakan agar pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI mundur. Sejumlah pejabat pun akhirnya mengundurkan diri, termasuk Direktur Utama BEI dan beberapa anggota Dewan Komisioner OJK. Pemerintah kemudian menunjuk pejabat sementara seperti Jeffrey Hendrik di BEI serta Hasan Fawzi dan Friderica Widyasari Dewi di OJK, sembari menyiapkan panitia seleksi untuk mengganti anggota OJK dan menggelar RUPS demi menjaga kredibilitas pasar.









Pihak BEI merespons kemarahan Prabowo dengan menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah. “Kami tentu berterima kasih mendapatkan dukungan yang luar biasa dari pemerintah,” ujar Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik.

Di sisi lain, Istana sempat menepis kabar bahwa Prabowo marah karena IHSG anjlok. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut yang terpenting adalah mencari solusi bersama atas gejolak pasar.

Krisis pasar modal yang dipicu oleh penangguhan MSCI bukan hanya mengguncang IHSG, tetapi juga memunculkan ketegangan politik. Presiden Prabowo disebut marah besar dan menuntut mundurnya pimpinan OJK dan BEI demi menjaga integritas pasar. Langkah ini menegaskan bahwa bagi pemerintah, kehormatan negara dan kredibilitas pasar modal adalah prioritas utama.