Bacatrend, NTT – Kisah Marselinus Beke, atau akrab disapa Arsen, siswa kelas 1 SD Inpres Golo Lambo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menyentuh hati publik.

Potret dirinya berangkat sekolah dengan sepatu robek dan pakaian sederhana viral di media sosial, menjadi simbol perjuangan anak-anak di pelosok negeri.

Potret itu pertama kali diunggah oleh pegiat sosial Manggarai, Tini Pasrin. Ia menulis, “Ayahnya, Martinus Miru, dan ibunya, Florentina, hanya petani dengan penghasilan pas-pasan. Permasalahan ekonomi membuat Marselinus harus menerima dan kuat dengan menggunakan sepatu yang sobek itu.”

Kisah ini memicu gelombang empati. Publik bergerak memberikan bantuan berupa sepatu baru dan tas sekolah. Kini Arsen bisa berangkat sekolah dengan perlengkapan yang lebih layak, meski semangatnya sejak awal sudah jauh melampaui keterbatasan.









Potret kemiskinan Marselinus ini pun mengingatkan pada tragedi di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Sebuah tragedi yang tak pernah terbayangkan merenggut keheningan siang pada 29 Januari 2026.

Di bawah rindangnya pohon cengkeh, seorang bocah berusia 10 tahun, YBS, ditemukan tak bernyawa. Ia adalah siswa kelas IV SD, anak kecil yang seharusnya masih sibuk menulis mimpi di buku tulis, bukan menulis surat perpisahan.

Sepucuk surat yang ditinggalkan YBS menjadi potret luka yang tak kasat mata. Ditulis dengan tangan mungilnya dalam bahasa Bajawa, surat itu ditujukan kepada sang ibu, MGT.

“Mama, jangan menangis dan cari saya,” tulisnya. Kalimat sederhana itu terasa lebih tajam dari pisau, mengiris hati siapa pun yang membacanya.

Surat itu bukan sekadar kata-kata, melainkan jeritan sunyi seorang anak yang merasa dunia terlalu berat, bahkan untuk sekadar meminta pena dan buku. Sebelum tragedi, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena.

Namun sang ibu, dengan suara berat, mengatakan tak punya uang. Permintaan sederhana itu tak terpenuhi.

Buku dan pena yang harganya tak sampai Rp10 ribu, ternyata lebih mahal dari masa depan seorang bocah kecil. Kisah ini semakin memilukan ketika seorang warga, KD, yang hendak mengikat ternaknya, menemukan tubuh YBS di pohon cengkeh.

Pohon cengkeh yang biasanya harum kini menyimpan aroma kehilangan. Kematian YBS bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi tamparan keras bagi kita semua.

Bahwa di sudut-sudut negeri, ada anak-anak yang berjuang bukan hanya melawan pelajaran sekolah, tetapi melawan kemiskinan yang mencekik. Bahwa di balik angka-angka statistik pembangunan, ada wajah-wajah kecil yang menatap masa depan dengan mata penuh harap.

Pendidikan bukanlah kemewahan, melainkan hak. Bahwa pena dan buku seharusnya menjadi jembatan menuju mimpi, bukan alasan untuk menyerah pada hidup.

Kisah YBS dan Marselinus adalah cermin getir dari realitas yang sering luput dari perhatian. Ia mengingatkan kita bahwa di balik gemerlap kota, ada desa-desa yang masih bergulat dengan kemiskinan.

Pemerintah perlu menjadikan kisah seperti ini sebagai alarm: bahwa akses pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan gedung sekolah, tetapi juga soal kebutuhan dasar anak-anak agar bisa belajar dengan layak.