Bacatrend, Lombok – Hampir dua puluh tahun lamanya, Norida Akmal Ayob hidup jauh dari tanah kelahirannya. Perempuan warga negara asing (WNA) asal Malaysia berusia 45 tahun itu menetap di Lombok, Indonesia, demi mengikuti suami yang ia cintai. Harapannya sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia. Namun kenyataan berkata lain. Pernikahan itu kandas, meninggalkan Norida berjuang sendiri dalam kemiskinan bersama anak-anaknya.

“Pernikahan Norida tidak berlangsung lama dan dia akhirnya hidup sendirian dalam kemiskinan dan kekurangan,” ungkap Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Shamsul Anuar Nasarah. Kata-kata itu menggambarkan betapa panjang jalan yang harus ditempuh seorang perempuan yang terpisah dari tanah airnya.

Untuk bertahan hidup, Norida bekerja sebagai petugas kebersihan. Di tengah keterbatasan, ia tetap berusaha menafkahi dua anaknya. Putrinya, Nur Fateen Akmadiana, berstatus warga negara Malaysia, sementara putranya, Muhamad Sabani Daniel, lahir di Indonesia dan memegang kewarganegaraan Indonesia. Perbedaan status kewarganegaraan itu menambah rumit perjuangan seorang ibu yang hanya ingin anak-anaknya bisa bersekolah dengan layak.

“Dia mencari nafkah sebagai petugas kebersihan untuk terus hidup bersama anak-anaknya setelah berpisah dari suaminya yang menikah lagi,” tulis Shamsul dalam keterangannya. Pernyataan itu menegaskan betapa Norida tidak pernah menyerah, meski hidupnya jauh dari dukungan keluarga dan negara.









Kisah pilu ini akhirnya sampai ke telinga pemerintah setelah keluarganya di Kampung Bukit Sapi, Lenggong, melaporkan kondisi yang dialaminya. “Saya diberitahu bahwa Norida hidup serba kekurangan. Anak-anaknya tidak dapat melanjutkan sekolah dan telah ditelantarkan,” ujar Shamsul.

Setelah 18 tahun penuh luka, kepulangan Norida ke Malaysia menjadi akhir dari perjalanan panjang yang melelahkan. Namun lebih dari itu, kepulangannya adalah awal baru: kesempatan untuk menata kembali hidup, membangun harapan, dan mengembalikan martabat yang sempat terkikis oleh keterasingan.

Norida adalah simbol dari ribuan kisah perempuan migran yang terjebak dalam keterbatasan. Sepanjang hampir dua dekade, ia membuktikan bahwa meski hidup bisa meruntuhkan harapan, semangat seorang ibu untuk anak-anaknya tak pernah padam.