Bacatrend, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus pasar. Keputusan ini diambil di tengah pelemahan rupiah yang mencapai -1,74% sejak awal 2026, melanjutkan depresiasi sebesar -3,52% sepanjang 2025.

BI menegaskan fokus pada stabilitas nilai tukar dan cadangan devisa, dengan menghapus pernyataan sebelumnya terkait peluang pemangkasan suku bunga. Langkah ini dilakukan untuk mendukung efektivitas intervensi rupiah dan menjaga kecukupan cadangan devisa.

Di sisi eksternal, perang di Iran menekan prospek pertumbuhan ekonomi global sekaligus meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuat peluang pelonggaran suku bunga oleh Federal Reserve tertunda. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS dan penguatan indeks dolar (DXY) turut memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.

Selain faktor global, lonjakan harga minyak dunia meningkatkan risiko pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang berpotensi memperburuk sentimen terhadap rupiah.









Dengan kebijakan ini, BI menegaskan prioritas pada stabilitas makroekonomi dan nilai tukar, meski langkah tersebut berpotensi menahan ruang pemulihan ekonomi domestik.