Bacatrend, Jakarta – Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengungkap kronologi penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang terjadi pada Kamis malam (12/3).

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin, menyebut korban diduga telah dibuntuti oleh pelaku sejak berada di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

“Video pertama menunjukkan pada pukul 19.45 WIB korban memasuki kantor YLBHI untuk mengikuti kegiatan podcast,” ujar Iman dalam konferensi pers, Rabu (18/3/2026).

Berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV), korban kemudian keluar dari lokasi usai kegiatan. Sejak saat itu, pergerakan korban sudah dalam pengawasan pelaku. “Sejak dari kantor YLBHI, termonitor sudah ada yang mengikuti oleh terduga pelaku orang tak dikenal,” katanya.









Dari hasil analisis rekaman, dua orang yang diduga sebagai eksekutor mulai membuntuti korban menggunakan sepeda motor. Mereka terlihat mengikuti korban secara konsisten sejak keluar dari lokasi kegiatan.

Ketika korban berhenti untuk mengisi bahan bakar di sebuah SPBU, kedua pelaku kembali terekam kamera pengawas. Polisi menemukan kesesuaian antara pakaian dan kendaraan yang digunakan pelaku di lokasi tersebut dengan saat kejadian berlangsung.

“Terlihat kesesuaian antara pakaian yang digunakan dengan kendaraan yang digunakan saat eksekusi,” ujar Iman.

Selain dua eksekutor, polisi juga menemukan indikasi keterlibatan pelaku lain. Sebuah sepeda motor lain diduga telah menunggu di jalur yang akan dilalui korban menuju lokasi kejadian perkara (TKP).

Setibanya di TKP, pelaku langsung melancarkan aksi penyiraman cairan berbahaya ke arah korban. Aksi tersebut terekam jelas dalam CCTV di sekitar lokasi.
Usai melakukan penyerangan, para pelaku melarikan diri secara berpencar. Salah satu sepeda motor terlihat melawan arus menuju Jalan Diponegoro. Di lokasi tersebut, dua orang pelaku terekam berhenti dan membersihkan tubuh menggunakan air mineral.

“Eksekutor diduga terkena cairan tersebut sehingga mencoba membersihkan bagian tubuhnya, ini terlihat di video CCTV,” kata Iman.

Tidak hanya itu, pelaku juga sempat mengganti pakaian untuk menghilangkan jejak. Dalam rekaman, terlihat seorang pelaku melepas kemeja batik berwarna biru dan menyisakan kaos merah yang dikenakan di dalamnya.

Sementara itu, pelaku lainnya melarikan diri ke arah kawasan Matraman dan sempat terekam kamera di underpass.
Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa pergerakan pelaku sudah dimulai sejak sore hari. Pada pukul 17.18 WIB, wajah salah satu pelaku sempat terekam jelas oleh CCTV. Selang beberapa menit, tepatnya pukul 17.22 WIB, pelaku terlihat bergerak menuju area yang kemudian menjadi lokasi kejadian.

Dalam olah tempat kejadian perkara, polisi juga menemukan barang bukti berupa helm yang diduga milik pelaku di sekitar lokasi. Barang tersebut saat ini tengah menjalani uji laboratoris untuk kepentingan penyidikan.

Dari hasil pemeriksaan terhadap sedikitnya 15 saksi, analisis CCTV, serta pemanfaatan sistem Satu Data Polri, penyidik mengidentifikasi dua orang terduga pelaku berinisial BHC dan MAK.

“Dari keterangan saksi dan analisis CCTV, kami menduga dua orang berinisial BHC dan MAK,” ujar Iman.

Meski demikian, polisi belum menutup kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam aksi tersebut. Indikasi ini muncul dari pola pergerakan dan koordinasi di lapangan.

“Tidak menutup kemungkinan pelaku lebih dari empat orang sebagaimana informasi awal,” katanya.

Sebelumnya, kasus ini juga menyeret dugaan keterlibatan aparat militer. Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Yusri Nuryanto, mengungkap empat anggota TNI yang diduga terkait dalam peristiwa tersebut.

Keempatnya masing-masing berinisial NDP (kapten), SL (lettu), PHW (lettu), dan ES (serda). Mereka diketahui berasal dari Detasemen Markas (Denma) Badan Intelijen Strategis TNI, yang beranggotakan personel lintas matra dari TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara.

Hingga kini, penyelidikan masih terus berjalan untuk mengungkap keterkaitan antara para pelaku sipil yang teridentifikasi melalui CCTV dengan dugaan keterlibatan anggota TNI tersebut, termasuk mendalami motif dan peran masing-masing dalam rangkaian peristiwa ini.

Kronologi Detik-detik Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS

Korban: Andrie Yunus
Lokasi awal: Kantor YLBHI, Jakarta Pusat
Tanggal kejadian: Kamis, 12 Maret 2026

Fase 1: Pemantauan Awal (Sore Hari)
17.18 WIB
Wajah salah satu terduga pelaku terekam jelas oleh CCTV di sekitar lokasi.
Ini menjadi titik awal indikasi bahwa pelaku sudah berada di lapangan sejak sore.
17.22 WIB
Pelaku terpantau bergerak menuju jalur yang kemudian menjadi lokasi kejadian.
Dugaan awal: pelaku mulai menyusun posisi dan jalur pelarian.

Fase 2: Korban Masuk Lokasi Kegiatan
19.45 WIB
Korban memasuki kantor YLBHI untuk mengikuti kegiatan siniar (podcast) bertema isu sensitif terkait militerisme.
Tidak ada indikasi gangguan pada fase ini.

Fase 3: Mulai Pembuntutan
±23.00 WIB
Kegiatan selesai, korban keluar dari kantor YLBHI.
Pada momen ini, pelaku mulai aktif membuntuti.
Beberapa menit setelah keluar
CCTV menunjukkan satu sepeda motor berisi dua orang mengikuti korban.
Kedua orang ini diduga sebagai eksekutor utama.

Fase 4: Tracking dan Konfirmasi Target
Dalam perjalanan (waktu tidak disebutkan, setelah 23.00 WIB)
Korban berhenti di SPBU untuk mengisi bahan bakar.
Pelaku kembali terekam CCTV di lokasi yang sama.

Temuan penting:
Pakaian dan kendaraan pelaku identik dengan yang digunakan saat eksekusi.
Ini memperkuat dugaan bahwa pembuntutan bersifat terencana, bukan spontan.

Fase 5: Posisi Penyerangan Disiapkan
Menjelang TKP
Polisi menemukan indikasi adanya motor lain yang sudah standby di jalur menuju lokasi kejadian.
Artinya, pelaku kemungkinan bekerja dalam tim (lebih dari dua orang).

Fase 6: Eksekusi (Momen Kunci)
Di TKP (sekitar malam, pasca 23.00 WIB)
Dua eksekutor mendekati korban.
Salah satu pelaku menyiramkan cairan (diduga air keras) ke arah tubuh korban.
Dampak langsung:
Korban mengalami luka serius di wajah, mata, dada, dan tangan.
Aksi terekam jelas oleh CCTV di sekitar lokasi.

Fase 7: Pelarian Terkoordinasi
Detik setelah penyiraman
Pelaku langsung kabur secara berpencar.

Rute 1:
Satu motor melawan arus ke arah Jalan Diponegoro.

Rute 2:
Pelaku lain menuju kawasan Matraman, terekam di underpass.

Fase 8: Upaya Menghilangkan Jejak
Beberapa menit setelah pelarian
Dua pelaku berhenti di Jalan Diponegoro.

Aksi yang terekam:
Membersihkan tubuh menggunakan air mineral

Dugaan: cairan berbahaya mengenai tubuh pelaku

Tambahan:
Pelaku mengganti pakaian
Kemeja batik biru dilepas, menyisakan kaos merah

Fase 9: Barang Bukti Tertinggal
Pasca kejadian (olah TKP)
Polisi menemukan helm yang diduga milik pelaku di sekitar lokasi
Saat ini tengah diuji secara laboratoris

Fase 10: Identifikasi Pelaku
Pasca analisis CCTV & saksi
Polisi memeriksa sedikitnya 15 saksi
Menggunakan analisis CCTV dan sistem data kepolisian

Hasil sementara:
Dua terduga pelaku diidentifikasi: BHC dan MAK
Jumlah pelaku diduga lebih dari empat orang

Fase 11: Keterkaitan dengan Aktor Lain
Secara paralel, Puspom TNI mengungkap empat anggota TNI yang diduga terkait
Mereka berasal dari Badan Intelijen Strategis TNI