Bacatrend, Gresik — Perayaan malam takbiran di Desa Kepuh Teluk, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tahun ini tampil tidak biasa. Selain lantunan takbir yang menggema, warga juga menghadirkan simbol-simbol yang merefleksikan isu global.

Dalam pawai yang berlangsung pada Jumat malam, 20 Maret 2026, perhatian publik tertuju pada sebuah replika rudal berukuran besar yang disebut sebagai representasi “nuklir Iran” dan diberi tulisan “GEMPA”. Karya tersebut menjadi medium ekspresi sejumlah pemuda desa dalam menanggapi dinamika konflik internasional yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Kehadiran simbol tersebut memberikan nuansa baru dalam tradisi takbiran yang umumnya bersifat religius. Pawai kali ini memperlihatkan perpaduan antara budaya lokal, kreativitas seni, dan respons terhadap isu-isu global.

Selain replika rudal, berbagai karya lain turut memeriahkan arak-arakan, seperti miniatur pesawat tempur, kereta kencana, hingga karakter imajinatif. Seluruhnya dihiasi lampu warna-warni dan diiringi pengeras suara yang terus mengumandangkan takbir sepanjang jalur pawai.









Antusiasme masyarakat terlihat sejak usai salat Isya. Warga dari berbagai usia memenuhi jalan utama desa untuk menyaksikan penampilan karya dari masing-masing dusun yang setiap tahun selalu mengusung tema berbeda.

Di balik kemeriahan tersebut, terdapat kerja gotong royong para pemuda setempat. Proses pembuatan replika telah dimulai sejak pertengahan Ramadan dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti bambu, kertas, dan cat, yang kemudian dirakit menjadi karya berukuran besar.

Tradisi arak-arakan takbiran ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Kepuh Teluk. Setiap dusun berlomba menampilkan karya terbaiknya, mulai dari bentuk hewan, tokoh mitologi, hingga miniatur kendaraan dan bangunan. Seluruh karya diarak menggunakan gerobak atau kendaraan terbuka melalui rute yang dimulai dari arah selatan dan utara desa sebelum kembali ke titik awal.

Menariknya, kegiatan ini sepenuhnya didanai secara swadaya oleh masyarakat. Warga berkontribusi melalui iuran sukarela, sementara para pemuda menjadi penggerak utama dalam proses produksi hingga pelaksanaan acara.

Bagi masyarakat setempat, pawai takbiran bukan sekadar perayaan tahunan. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial, membangun kebersamaan, sekaligus menarik minat para perantau untuk pulang kampung saat Lebaran.

Panitia malam takbiran Desa Kepuh Teluk, Reza Fahlevi, menyebut kegiatan ini memiliki nilai lebih dari sekadar hiburan.

“Ini wadah kreativitas sekaligus upaya menjaga solidaritas warga. Kami ingin energi generasi muda tersalurkan ke hal-hal positif,” ujarnya.