Menikmati Sunyi yang Bergaung dari Gua Selomangleng Kediri
Bacatrend, Kediri — Di lereng tenang Gunung Klotok, waktu seperti kehilangan urgensinya. Di tengah lanskap hijau yang tampak biasa, sebuah rongga batu menyimpan kisah panjang yang tak pernah benar-benar usai. Itulah Gua Selomangleng—situs purbakala yang tak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga ruang sunyi yang memelihara makna di balik gemuruh zaman.
Dari kejauhan, gua ini tampak sederhana—sekadar lubang pada tebing batu andesit. Namun kesan itu segera luruh saat mendekat. Mulut gua menyerupai gerbang purba yang membuka jalan menuju ruang yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih tua dari ingatan kolektif manusia modern.
Udara di dalamnya lembap dan dingin, dengan aroma khas batu basah yang seakan menyimpan napas masa lalu.
Memasuki ruang utama, kesan pertama yang muncul adalah tekanan yang tak kasatmata. Langit-langit batu yang rendah, dinding kasar dengan pahatan samar, serta gema langkah kaki yang memantul panjang menciptakan atmosfer yang nyaris meditatif.
Secara historis, Gua Selomangleng diyakini berasal dari periode abad ke-10 hingga ke-11, masa peralihan antara kekuasaan Kahuripan dan Kediri. Tidak seperti gua alami yang terbentuk oleh proses geologi, gua ini merupakan hasil pahatan manusia.
Struktur ruangnya dirancang dengan kesadaran tertentu—ruang utama yang relatif luas, lorong sempit yang mengarah ke bagian lebih dalam, serta ceruk-ceruk kecil yang diduga digunakan sebagai tempat bertapa.
Di beberapa bagian dinding, relief yang telah aus masih tampak samar. Meski detailnya terkikis waktu, keberadaan pahatan tersebut menegaskan bahwa gua ini bukan ruang sembarangan. “Ini adalah situs pertapaan, bukan sekadar tempat berlindung. Ada fungsi spiritual yang sangat kuat,” kata seorang peneliti sejarah lokal.
Nama Dewi Kilisuci menjadi narasi sentral yang melekat pada gua ini. Dalam kisah yang berkembang luas di masyarakat, ia adalah putri dari Airlangga yang memilih meninggalkan kehidupan istana.
Di saat tahta berada dalam jangkauan, Kilisuci justru mengambil jalan sunyi—mengasingkan diri di dalam gua untuk menjalani laku spiritual. Pilihan itu, bagi banyak kalangan, bukan sekadar kisah legenda, tetapi simbol filosofi Jawa kuno.
“Kilisuci merepresentasikan penolakan terhadap kekuasaan duniawi. Ia memilih kedalaman makna dibanding kemegahan,” ujar seorang Dwi Winarno, pengunjung gua.
Lorong-lorong sempit di dalam gua memperkuat kesan tersebut. Semakin ke dalam, cahaya semakin redup hingga nyaris hilang. Di titik tertentu, hanya kegelapan dan suara napas yang tersisa. Ruang-ruang kecil yang tersembunyi di bagian dalam dipercaya menjadi tempat meditasi atau tapa, di mana seseorang berhadapan langsung dengan dirinya sendiri.
Di luar struktur fisiknya, Gua Selomangleng juga hidup dalam narasi mitologis. Sebagian masyarakat meyakini adanya jalur gaib yang menghubungkan gua ini dengan tempat-tempat lain, termasuk kawasan Laut Selatan. Ada pula cerita tentang moksa—lenyapnya raga secara spiritual—yang dikaitkan dengan Dewi Kilisuci. Meski tidak dapat diverifikasi secara ilmiah, kisah-kisah ini tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya setempat.
Kini, Gua Selomangleng telah menjadi destinasi wisata sejarah yang cukup dikenal di Kediri. Akses jalan yang memadai dan fasilitas pendukung membuat kawasan ini ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan.
Namun, di balik geliat wisata, tantangan pelestarian terus mengemuka. Coretan vandalisme yang sempat ditemukan di dinding gua menjadi bukti bahwa kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya masih perlu diperkuat.
“Setiap goresan di dinding gua adalah bagian dari sejarah. Sekali rusak, tidak bisa dikembalikan,” ujar Suwandi, salah seorang pengunjung.
Lebih dari sekadar objek wisata, Gua Selomangleng adalah ruang kontemplasi yang mempertemukan masa lalu dan masa kini. Ia tidak menawarkan keindahan visual yang mencolok, tetapi menghadirkan pengalaman yang lebih dalam—tentang sunyi, tentang pilihan hidup, dan tentang jejak manusia yang tak lekang oleh waktu.
Di dalam perut batu itu, sejarah tidak berbicara dengan suara keras. Ia berbisik pelan, melalui dinding yang dingin dan lorong yang gelap—menunggu untuk dipahami oleh siapa pun yang datang tidak hanya untuk melihat, tetapi juga untuk merasakan.












Tinggalkan Balasan