Bacatrend, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batubara Acuan (HBA) periode kedua April 2026 naik menjadi USD 103,43 per ton, dari sebelumnya USD 99,87 per ton pada periode pertama. Kenaikan ini mencerminkan penguatan harga komoditas energi global serta penyesuaian formula baru yang diterapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas penerimaan negara.

Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 145.K/MB.01/MEM.B/2026 tentang Harga Mineral Logam Acuan dan Harga Batubara Acuan untuk Periode Kedua Bulan April Tahun 2026. HBA digunakan sebagai dasar perhitungan Harga Patokan Batubara (HPB) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor pertambangan.

Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menjelaskan bahwa kenaikan HBA dipengaruhi oleh tren permintaan global yang meningkat, terutama dari sektor energi dan industri baja di Asia. “Permintaan dari Tiongkok dan India kembali menguat, sementara pasokan global masih terbatas akibat gangguan logistik di Australia dan Afrika Selatan,” ujarnya di Jakarta.

Selain faktor eksternal, penyesuaian formula harga juga berperan dalam kenaikan HBA. Pemerintah mulai menerapkan formula baru sesuai Kepmen ESDM Nomor 144 Tahun 2026, yang menyesuaikan komponen harga dengan kondisi pasar internasional.









Kenaikan HBA berdampak langsung pada penerimaan negara melalui PNBP progresif sesuai PP Nomor 18 Tahun 2025, dengan tarif antara 15–22 persen tergantung level harga. Di sisi lain, industri pengguna batubara seperti semen dan baja diperkirakan akan menyesuaikan biaya produksi akibat kenaikan harga energi.

Tri menambahkan, pemerintah akan terus memantau dinamika pasar untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan negara dan pelaku usaha. “Kami memastikan kebijakan harga tetap transparan dan adaptif terhadap perubahan pasar global,” katanya.

Dengan tren kenaikan ini, Indonesia diperkirakan tetap menjadi pemasok utama batubara termal di kawasan Asia, sekaligus menjaga stabilitas fiskal di tengah fluktuasi harga energi dunia.