Dari Recehan Cilok ke Tanah Suci, Jalan Sunyi Mislicha Menaklukkan Mimpi Haji
Bacatrend, Surabaya – Langit senja di Embarkasi Surabaya seolah menahan napas, menyaksikan satu kisah yang terasa lebih besar dari sekadar keberangkatan jemaah. Di antara deretan koper dan langkah-langkah penuh harap, berdiri sosok renta dengan tekad baja—Mislicha Kasib, 85 tahun, perempuan sederhana dari Kota Pasuruan yang menulis takdirnya sendiri dengan cara yang nyaris tak terbayangkan.
Ia bukan hanya jemaah tertua di Kloter 10. Ia adalah definisi ketekunan yang hidup.
Sehari-hari, Mislicha menyusuri jalanan Kecamatan Bugul Kidul, mendorong gerobak ciloknya, mengumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil jualan yang tak pernah mewah—sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari. Namun dari angka yang tampak kecil itulah, ia menyisihkan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, setiap hari, tanpa kompromi.
Recehan itu, di tangan orang lain mungkin sekadar lewat. Tapi bagi Mislicha, ia adalah batu bata mimpi. Ia menguatkannya dengan arisan, mengikat harapan dari berbagai arah, hingga pada 2017 ia berhasil menapakkan langkah awal: mendaftar haji dengan setoran Rp25 juta—hasil dari disiplin yang nyaris tak tergoyahkan oleh waktu.
Hidupnya bukan tanpa luka. Setelah ditinggal wafat suami, ia memikul tanggung jawab membesarkan delapan anak seorang diri. Namun alih-alih runtuh, Mislicha justru mengeras seperti baja ditempa. Setiap cobaan menjadi alasan untuk terus bergerak, bukan berhenti.
Kini, Kamis (23/4/2026), ia tiba di Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), membawa seluruh perjalanan hidupnya dalam satu langkah yang terasa sakral.
Dan pada Jumat (24/4/2026) pukul 20.20 WIB, ia akan terbang dari Bandara Internasional Juanda menuju Tanah Suci—sebuah klimaks dari perjalanan panjang yang ditempuh dengan kesabaran tanpa jeda.
Di sisinya, putri bungsunya, Mariatul Kibtiyah (35), hadir sebagai pendamping melalui skema penggabungan mahram. Kehadirannya bukan hanya untuk membantu secara fisik, tetapi juga menjadi saksi bagaimana seorang ibu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan.
Kisah Mislicha melampaui sekadar perjalanan haji. Ia adalah bukti bahwa mimpi tidak mengenal usia, bahwa usaha sekecil apa pun bisa menjelma menjadi sesuatu yang agung ketika dijaga dengan konsistensi, dan bahwa harapan—jika dirawat dengan sabar—akan menemukan jalannya pulang.












Tinggalkan Balasan