Bacatrend, Bekasi — Kecelakaan kereta api yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Hingga Selasa (28/4), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai sekitar tujuh orang, sementara korban luka mencapai puluhan hingga lebih dari 70 orang.

Insiden bermula ketika rangkaian KRL Commuter Line berhenti di jalur rel akibat gangguan operasional di lintasan. Dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang tetap memasuki jalur yang sama dan akhirnya menabrak bagian belakang KRL.

Benturan keras terjadi dalam waktu singkat, menghantam gerbong terakhir KRL yang saat itu dipadati penumpang. Sejumlah penumpang tidak sempat menyelamatkan diri, sehingga bagian belakang rangkaian mengalami kerusakan paling parah. Beberapa korban bahkan sempat terjepit di dalam badan gerbong yang ringsek.

Dalam laporan awal, jumlah korban meninggal sempat disebut lebih rendah. Namun, seiring proses evakuasi dan identifikasi yang berlangsung sepanjang malam hingga pagi hari, angka korban terus bertambah. Hingga pembaruan terakhir, korban meninggal tercatat sekitar tujuh orang.









Sementara itu, jumlah korban luka dilaporkan mencapai lebih dari 70 orang. Para korban dievakuasi ke sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi dan Jakarta Timur dengan kondisi yang bervariasi, mulai dari luka ringan hingga luka berat.

Proses evakuasi melibatkan petugas gabungan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), kepolisian, TNI, serta tim medis.

Puluhan ambulans dikerahkan ke lokasi untuk mempercepat penanganan korban. Evakuasi berlangsung dramatis karena sebagian korban harus dikeluarkan menggunakan peralatan khusus akibat terjepit di dalam gerbong.

Sebagian besar korban berasal dari penumpang KRL yang berada di gerbong belakang saat tabrakan terjadi. Sementara itu, seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah sekitar 240 orang dilaporkan selamat dari insiden tersebut.

Hingga kini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan. Dugaan sementara mengarah pada gangguan operasional di lintasan yang menyebabkan KRL berhenti, serta kemungkinan adanya masalah dalam sistem pengaturan perjalanan kereta.

Akibat kejadian ini, operasional kereta di lintasan Bekasi sempat mengalami gangguan sebelum akhirnya berangsur normal. Pihak operator kereta menyatakan fokus utama saat ini adalah penanganan korban dan pemulihan layanan.

Jumlah korban masih berpotensi berubah seiring proses pendataan lanjutan dan perkembangan kondisi korban luka yang masih menjalani perawatan di rumah sakit.