Bacatrend, Surabaya — Senja di kawasan Raya Lontar, Surabaya Barat,, menjadi saksi berakhirnya pelarian panjang seorang buronan. Setelah lima tahun menghilang bak ditelan waktu, Eka Sugondo—terpidana kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)—akhirnya tak lagi punya ruang untuk bersembunyi.
Tim Tangkap Buron Kejaksaan Negeri Surabaya bergerak senyap namun pasti.

Sekitar pukul 18.00 WIB, operasi itu mencapai puncaknya. Tanpa perlawanan, Eka Sugondo diamankan di sebuah rumah yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya. Tak ada drama kejar-kejaran, tak ada perlawanan sengit—hanya akhir yang tak terelakkan bagi pelarian panjang.

Kasus yang menjeratnya bukan perkara sepele. Pada 2021, ia terbukti melakukan kekerasan terhadap istrinya berinisial AS hingga menyebabkan luka. Putusan hukum telah dijatuhkan melalui Pengadilan Negeri Surabaya dengan nomor perkara 2256/Pid.Sus/2021/PN.Sby. Namun, alih-alih menjalani hukuman, ia memilih menghilang—menjadi bayang-bayang di tengah kota yang terus bergerak.

Lima tahun berselang, waktu seolah berhenti baginya di titik yang sama: tanggung jawab yang tak pernah bisa dihindari. Begitu ditangkap, tak ada jeda. Jaksa eksekutor langsung menjalankan putusan, mengirimnya ke Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo—tempat di mana pelarian itu benar-benar berakhir.









Penangkapan ini bukan sekadar keberhasilan teknis, melainkan simbol ketekunan aparat dalam memburu keadilan. Sepanjang Januari hingga April 2026, Tim Tangkap Buron Kejari Surabaya telah mengamankan lima buronan. Eka Sugondo menjadi satu lagi nama yang terhapus dari daftar pelarian.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Surabaya, Putu Arya Wibisana, menegaskan bahwa pesan yang ingin disampaikan sangat jelas dan tanpa kompromi: tidak ada tempat aman bagi buronan.

“Waktu boleh berlalu, ruang boleh berubah, tetapi hukum akan tetap menemukan jalannya,” ujarnya.

Bagi para buronan lain yang masih bersembunyi, kisah ini menjadi peringatan yang nyaris puitis—bahwa sejauh apa pun langkah melarikan diri, keadilan akan selalu menemukan titik akhirnya. Di lorong-lorong kota, di balik pintu-pintu yang tertutup rapat, waktu terus berjalan. Dan suatu hari, seperti senja di Lontar, semuanya akan sampai pada ujungnya.