Bacatrend, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada Kamis pagi, 30 April 2026. Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka di posisi Rp17.349 per dolar AS, turun 23 poin atau 0,13 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.326 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang didorong oleh kebijakan moneter Federal Reserve serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Indeks dolar AS sempat menguat ke level 98,940, menandakan dominasi mata uang Amerika terhadap mayoritas mata uang dunia. Kurs transaksi Bank Indonesia mencatat kurs jual Rp17.264,90 dan kurs beli Rp17.093,10, mencerminkan tekanan yang masih berlanjut di pasar valuta asing.

Analis menilai pelemahan rupiah dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih menahan penurunan hingga paruh kedua tahun ini. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah turut menekan minat investor terhadap aset berisiko di kawasan Asia.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga pukul 10.00 WIB terpantau anjlok 1,50 persen atau berada di level 6.994. Koreksi tajam ini menandakan tekanan kuat dari pelemahan rupiah serta aksi jual investor asing. Beberapa saham unggulan perbankan seperti BBCA dan sektor teknologi mengalami pelemahan, sementara sektor energi dan infrastruktur yang sempat menopang indeks di awal perdagangan tidak mampu menahan arus jual.









Investor domestik masih berhati-hati menghadapi pelemahan rupiah dan potensi tekanan inflasi menjelang rilis data ekonomi bulan Mei. Arus dana asing menunjukkan pola keluar (net sell), menandakan sikap defensif investor global terhadap pasar Indonesia.

Secara keseluruhan, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS dalam jangka pendek, sementara IHSG berpotensi menghadapi tekanan lanjutan jika pelemahan rupiah berlanjut. Pelaku pasar menanti langkah intervensi Bank Indonesia serta kebijakan fiskal pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional.