Bacatrend, Jakarta – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami kenaikan pada perdagangan Selasa (19/5). Harga emas Antam tercatat naik Rp25.000 menjadi Rp2.789.000 per gram dibanding perdagangan sebelumnya.

Kenaikan harga emas tersebut terjadi di tengah tingginya minat investor terhadap instrumen safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan.

Tak hanya Antam, harga emas produksi UBS dan Galeri24 juga bergerak menguat. Berdasarkan data perdagangan Pegadaian, harga emas UBS dipatok Rp2.788.000 per gram, sementara Galeri24 berada di level Rp2.756.000 per gram.

Berikut rincian harga emas 1 gram pada perdagangan hari ini:
Antam: Rp2.789.000
UBS: Rp2.788.000
Galeri24: Rp2.756.000









Kenaikan harga emas Antam dinilai cukup signifikan setelah sebelumnya sempat mengalami koreksi pada awal pekan.

Pergerakan harga logam mulia dalam beberapa waktu terakhir masih dipengaruhi sejumlah faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, hingga ketegangan geopolitik dunia.

Emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat karena dianggap mampu menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi. Ketika pasar saham dan instrumen berisiko mengalami tekanan, investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti emas.

Selain harga jual, investor juga memperhatikan selisih harga buyback atau pembelian kembali. Produk Antam masih menjadi pilihan utama karena memiliki likuiditas tinggi dan jaringan distribusi luas. Sementara itu, UBS dan Galeri24 mulai banyak diminati karena menawarkan harga yang relatif kompetitif.

Untuk ukuran lain, harga emas Antam pecahan 5 gram saat ini berada di kisaran Rp14 juta. Sedangkan UBS dan Galeri24 diperdagangkan di kisaran Rp13 jutaan, tergantung ukuran dan tempat pembelian.

Pelaku pasar memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Jika ketegangan geopolitik global dan ketidakpastian ekonomi terus berlanjut, harga emas diprediksi tetap bertahan di level tinggi.

Namun, penguatan dolar Amerika Serikat dan peluang kenaikan suku bunga acuan masih dapat memicu koreksi harga logam mulia dalam beberapa waktu ke depan.