Pengurus Baru ISKI Jatim Dilantik, Soroti Etika Komunikasi Generasi Muda di Era Medsos
Bacatrend, Surabaya — Kepengurusan baru Jawa Timur resmi dilantik. Momentum ini menjadi titik awal penguatan peran organisasi dalam membenahi etika komunikasi publik, terutama di tengah derasnya arus media sosial.
Ketua Umum ISKI, menegaskan pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis untuk menghidupkan kembali kiprah ISKI di daerah yang selama ini dinilai belum optimal.
Menurutnya, di bawah kepemimpinan ISKI Jawa Timur diharapkan mampu merancang agenda komunikasi yang lebih terarah dan berdampak nyata bagi masyarakat. “Ke depan harus bisa menyusun agenda komunikasi yang lebih baik, terutama dalam penanganan komunikasi publik yang masih tercerai-berai dan kerap memicu konflik,” ujar Atwar.
Guru Besar Ilmu Komunikasi dari itu juga mendorong ISKI untuk aktif membangun komunikasi publik yang sehat dengan melibatkan para sarjana komunikasi lintas profesi.
Sementara itu, Ketua ISKI Jatim, Suko Widodo, menegaskan kepengurusan baru akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Tidak hanya melibatkan kalangan akademisi, tetapi juga wartawan, praktisi komunikasi, manajer perusahaan, anggota legislatif, hingga komisioner lembaga.
Menurutnya, pengembangan ilmu komunikasi tidak bisa hanya bertumpu pada teori, tetapi harus diperkaya dengan pengalaman empiris di lapangan. “Keilmuan komunikasi tidak cukup hanya dari textbook, tapi juga harus belajar dari praktik di lapangan,” tegasnya.
Suko menyoroti persoalan etika komunikasi generasi muda sebagai salah satu fokus utama ISKI Jatim. Ia menilai, tingginya aktivitas anak muda di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan komunikasi langsung.
“Di media sosial mereka sangat lantang, tapi ketika bertemu langsung justru cenderung diam. Ini tantangan kita untuk membangun komunikasi yang lebih human,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, perkembangan teknologi berpotensi memicu dehumanisasi komunikasi jika tidak diimbangi dengan kemampuan membangun relasi interpersonal.
Selain itu, ISKI Jatim turut menyoroti pola komunikasi pejabat publik yang dinilai masih didominasi pendekatan promosi ketimbang dialog. “Komunikasi itu bukan sekadar bicara, tetapi juga mendengar banyak lembaga masih lebih sibuk berpromosi daripada benar-benar berkomunikasi,” tandasnya.
Suko menegaskan, komunikasi publik yang sehat harus membuka ruang partisipasi masyarakat, termasuk kritik, sebagai bagian dari proses komunikasi yang utuh dan berkelanjutan.












Tinggalkan Balasan