PBNU Desak Pemerintah Bergerak Cepat soal Dugaan Penahanan WNI Di Misi Sumud Flotilla
Bacatrend, Jakarta – Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Tajul Mafakhir, mengecam dugaan penyergapan terhadap sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Sumud Flotilla menuju Palestina. Ia meminta pemerintah segera menempuh langkah diplomatik guna memastikan kondisi dan keselamatan para relawan serta jurnalis Indonesia yang dilaporkan ditahan oleh pasukan Israel Occupation Forces (IOF).
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Kamis (21/5), Gus Tajul menilai tindakan terhadap rombongan misi kemanusiaan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip kemanusiaan internasional. Menurutnya, operasi terhadap warga sipil yang tengah membawa misi solidaritas kemanusiaan tidak dapat dibenarkan.
“Penyerangan terhadap relawan kemanusiaan dan jurnalis sipil merupakan tindakan yang melukai nilai-nilai kemanusiaan universal,” ujar Gus Tajul.
Sembilan WNI yang berada dalam rombongan Sumud Flotilla berasal dari sejumlah lembaga kemanusiaan dan media nasional. Mereka di antaranya Andi Angga dari Rumah Zakat, Asad Aras dari Spirit of Aqsa, Hendro Prasetyo dari SMART 171, Herman Budianto dan Ronggo Wirasanu dari Dompet Dhuafa. Selain itu terdapat pula jurnalis Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika, Andre Prasetyo dari Tempo, serta Rahendro Herubowo dari iNews TV.
PBNU menegaskan negara harus menjadikan perlindungan warga negara sebagai prioritas utama. Karena itu, pemerintah diminta segera memanfaatkan seluruh jalur diplomasi internasional untuk memperoleh kepastian terkait keberadaan dan kondisi para WNI tersebut.
Menurut Gus Tajul, Indonesia memiliki posisi strategis dalam berbagai forum internasional yang dapat digunakan untuk membangun tekanan diplomatik terhadap Israel. Ia menilai kekuatan diplomasi Indonesia cukup penting untuk mendorong perhatian dunia internasional terhadap insiden yang menimpa rombongan kemanusiaan tersebut.
Selain mendesak langkah diplomatik, PBNU juga menegaskan kembali komitmen organisasi dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Gus Tajul menyebut dukungan tersebut telah menjadi bagian dari sikap politik dan kemanusiaan Nahdlatul Ulama sejak masa kepemimpinan Hasyim Asy’ari.
Ia menegaskan para ulama NU sejak dahulu konsisten menolak segala bentuk penjajahan dan berpihak pada kemerdekaan Palestina. Menurutnya, insiden terhadap rombongan Sumud Flotilla bukan hanya berdampak terhadap korban secara langsung, tetapi juga mencederai solidaritas kemanusiaan global.
Di akhir pernyataannya, Gus Tajul mengajak masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdliyin, untuk bersama-sama mendoakan keselamatan seluruh relawan dan jurnalis yang terlibat dalam misi tersebut agar segera mendapatkan perlindungan dan dapat kembali dengan selamat.












Tinggalkan Balasan