Oleh: Hendra Dwi Setiyawan

Bacatrend, SURABAYA – Setelah tujuh tahun absen, Tim Sapuangin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menembus persaingan Formula SAE Japan. Membawa Sapuangin Speed 8, tim mahasiswa asal Surabaya itu menempati peringkat ke-36 dari 54 peserta dalam klasemen keseluruhan kendaraan bermesin pembakaran internal atau Internal Combustion Vehicle (ICV) pada Formula SAE Japan 2026.

Berdasarkan publikasi ITS News dan keterangan Tim Sapuangin, hasil tersebut juga menempatkan ITS di posisi kedua di antara tim ICV asal Asia Tenggara. Penyebutan peringkat regional itu merupakan pengelompokan yang disampaikan pihak ITS dan tim, bukan kategori penghargaan tersendiri dalam dokumen resmi penyelenggara.

Kompetisi rekayasa otomotif tingkat mahasiswa tersebut berlangsung di Aichi Sky Expo, Aichi, Jepang, pada awal Agustus 2026. Penilaiannya tidak hanya bertumpu pada kecepatan, tetapi juga desain, biaya dan proses manufaktur, presentasi bisnis, keselamatan, serta performa kendaraan di lintasan.









Manajer Nonteknis Tim Sapuangin ITS, Ahmad Farid Mubarok, mengatakan keikutsertaan tahun ini menjadi momentum penting karena tim terakhir kali berlaga di Jepang pada 2019.

“Momen ini menjadi krusial karena terakhir kali Tim Sapuangin mengikuti kompetisi ini pada 2019,” kata Ahmad, dikutip dari ITS News, Minggu, 23 Agustus 2026.

Peringkat Ke-36 dengan 155,37 Poin

Dokumen hasil revisi kelas ICV yang diterbitkan Society of Automotive Engineers of Japan (JSAE) pada 7 Agustus 2026 mencatat ITS berlaga dengan nomor kendaraan C64. Sapuangin mengumpulkan 155,37 poin dan berada di posisi ke-36 dari 54 peserta.

Nilai tersebut diperoleh dari empat kategori yang berhasil diselesaikan, yakni Cost and Manufacturing, Business Plan Presentation, Design, dan Autocross.

Pada Cost and Manufacturing Event, ITS menempati peringkat ke-16 dari 51 tim dengan 27,63 poin. Dalam Business Plan Presentation, Sapuangin berada di posisi bersama ke-25 dengan 43,96 poin.

Untuk Design Event, tim memperoleh 34 poin. Sementara pada Autocross, Sapuangin menempati peringkat ke-32 dengan catatan waktu terbaik 80,265 detik dan meraih 49,78 poin.

Data resmi tersebut sekaligus memperjelas bahwa posisi ke-32 yang diperoleh ITS merupakan hasil Autocross kelas ICV secara keseluruhan, bukan peringkat khusus peserta Asia Tenggara.

Dalam klasemen akhir ICV, Doshisha University keluar sebagai juara dengan 895,80 poin. Kyoto Institute of Technology berada di posisi kedua dengan 805,52 poin, disusul Kyushu Institute of Technology yang membukukan 768,32 poin.

Mengandalkan Kelincahan di Lintasan

Sapuangin Speed 8 dikembangkan dengan pendekatan yang menitikberatkan pada pengurangan bobot dan kelincahan kendaraan. Berdasarkan keterangan resmi ITS, mobil formula generasi kedelapan tersebut menggunakan mesin berkapasitas 250 cc.

Dosen pembimbing Tim Sapuangin ITS, Dr Ir Witantyo Meng Sc, menjelaskan kapasitas mesin tersebut relatif kecil untuk kelas yang diikuti. Tim kemudian berusaha mengimbangi keterbatasan akselerasi dengan membuat kendaraan lebih ringan dan responsif ketika menghadapi tikungan teknikal.

“Dengan sirkuit Formula Student yang dirancang berliku, kekurangan akselerasi itu akan kami kompensasi dengan membuat bodi kendaraan selincah mungkin di lintasan,” jelas Witantyo dalam publikasi ITS menjelang keberangkatan tim.

Strategi itu diterapkan melalui perombakan sejumlah komponen utama. Tim menghadirkan front wing dan rear wing baru, merancang ulang konstruksi sasis, memperbarui jenis mesin, serta mengalibrasi kembali geometri suspensi.

Material komposit serat karbon digunakan pada bagian eksterior untuk membantu mengurangi bobot kendaraan. Sementara itu, konfigurasi perangkat aerodinamika dikembangkan untuk meningkatkan kestabilan dan daya tekan ketika mobil melaju di lintasan.

Manajer Umum Tim Sapuangin ITS, Chandra Iksan Suryana, mengatakan persaingan di Jepang menjadi tantangan karena tim harus menghadapi peserta yang lebih berpengalaman dan mendapat dukungan industri otomotif.

“Namun, tim kami melihatnya sebagai peluang emas untuk membuktikan ketangguhan riset mahasiswa ITS,” kata Chandra.

Bukan Sekadar Kompetisi Kecepatan

Formula SAE Japan merupakan kompetisi manufaktur dan desain kendaraan yang diselenggarakan JSAE. Ajang ini mempertandingkan dua kelas utama, yakni kendaraan bermesin pembakaran internal atau ICV dan kendaraan listrik atau EV.

Setiap tim dituntut merancang, membangun, dan menguji mobil formula secara mandiri. Kendaraan kemudian menjalani pemeriksaan keselamatan, kebocoran fluida, tingkat kebisingan, dan kemampuan pengereman sebelum mengikuti penilaian statis maupun dinamis.

Penilaian statis meliputi desain, biaya dan manufaktur, serta presentasi bisnis. Adapun pengujian dinamis mencakup acceleration, skidpad, autocross, endurance, dan efficiency.

Skema tersebut membuat peringkat akhir tidak hanya ditentukan oleh kecepatan. Ketepatan rancangan, efisiensi biaya, keselamatan, daya tahan kendaraan, serta kemampuan tim menjelaskan kelayakan produknya ikut menentukan perolehan poin.

PT Raharja Energi Cepu Tbk dalam publikasinya pada 27 Juli 2026 menyebut kompetisi tersebut diikuti lebih dari 90 tim dari berbagai negara apabila peserta ICV dan EV dihitung secara keseluruhan. Perusahaan itu mendukung keikutsertaan Sapuangin ITS bersama Cerberus Racing Team dari Institut Teknologi Bandung.

Mobil Pertama Generasi Baru Sapuangin

Sapuangin Speed 8 menjadi mobil formula pertama yang dikembangkan generasi baru Tim Sapuangin setelah tujuh tahun tidak tampil di Jepang. Tim harus membangun kembali pengalaman kompetisi, menjaga regenerasi pengetahuan, serta memperkuat koordinasi teknis dan nonteknis.

Menurut Ahmad, pencapaian di Jepang membuktikan mahasiswa ITS masih mampu bersaing dalam kompetisi rekayasa otomotif internasional.

“Dari kami memang sudah lama tidak mengikuti dan sudah siap untuk bangkit kembali membanggakan tim, ITS, dan Indonesia,” ujarnya.

Rektor ITS Prof Dr Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD sebelumnya menilai proses pengembangan mobil memberikan pengalaman yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh mahasiswa di ruang kuliah. Melalui proyek tersebut, mereka belajar mengelola waktu, membangun kerja sama, dan menyelesaikan persoalan teknis secara langsung.

“Ini merupakan pembelajaran berharga yang tidak bisa ditemukan di kelas. Berikan yang terbaik, jaga kekompakan selama di luar negeri, dan mari kibarkan bendera Indonesia di sana,” pesan Bambang saat pelepasan tim.

Perjalanan Sapuangin Speed 8 memang belum membawa ITS ke puncak klasemen Formula SAE Japan. Namun, keberhasilan kembali ke lintasan, menyelesaikan Autocross, menembus posisi ke-36 secara keseluruhan, dan menduduki peringkat kedua di antara tim ICV Asia Tenggara menjadi pijakan penting bagi pengembangan kendaraan berikutnya.

Mimpi yang dirakit dari bengkel kampus di Surabaya itu telah diuji di Negeri Sakura. Tantangan Sapuangin selanjutnya bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat reliabilitas kendaraan, meningkatkan performa pada kategori dinamis, dan memastikan regenerasi tim terus berjalan untuk memperkecil jarak dengan peserta terbaik dunia.

Sumber dan Rujukan

  1. Society of Automotive Engineers of Japan, “Overall Result Revised—ICV Class, Formula SAE Japan 2026”, 7 Agustus 2026.
  2. Society of Automotive Engineers of Japan, “Autocross Event—ICV Class”, 6 Agustus 2026.
  3. Society of Automotive Engineers of Japan, “Cost and Manufacturing Event—ICV Class”, 5 Agustus 2026.
  4. Society of Automotive Engineers of Japan, “Presentation Event—ICV Class”, 5 Agustus 2026.
  5. ITS News, Aulia Okta Wijaya, “Kembali Berlaga di Jepang, Sapuangin ITS Torehkan Capaian Gemilang”, 23 Agustus 2026.
  6. ITS News, “Desain Baru, Mobil Formula Sapuangin ITS Siap Berjaya di Jepang”, 17 Juli 2026.
  7. Jatimnow.com, “Sapuangin Speed 8 ITS Siap Tampil di Formula SAE Japan 2026”, 18 Juli 2026.
  8. Radar Surabaya–Jawa Pos, “Sapuangin Speed 8 ITS Siap Bersaing di Formula SAE Japan 2026”, Juli 2026.
  9. PT Raharja Energi Cepu Tbk, “Dua Tim Mahasiswa Indonesia Bersiap Berlaga di Formula SAE Japan 2026”, 27 Juli 2026.
  10. Instagram @itsteamsapuangin, “Formula SAE Japan 2026: Peringkat Kedua Overall ICV Southeast Asia dan Peringkat Ke-36 Overall ICV”, 14 Agustus 2026.
  11. Instagram @its_campus, “Selamat untuk Tim Sapuangin ITS atas Pencapaian di Formula SAE Japan 2026”, diakses 25 Agustus 2026.
  12. YouTube Kata Mereka, “Sapuangin Speed 8 ITS, Siap Harumkan Nama Indonesia di Formula SAE Japan 2026”, 20 Juli 2026.