Bacatrend, Surabaya – Suasana berbeda terasa di Pelataran Gedung Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Minggu (23/8/2026). Ribuan masyarakat berkumpul menikmati pagelaran wayang kulit yang digelar Untag Surabaya dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-68.

Tak sekadar menjadi hiburan, pagelaran wayang kulit tersebut menjadi bagian dari upaya Untag Surabaya untuk menjaga budaya sekaligus berbagi kebahagiaan bersama masyarakat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, pimpinan universitas, sivitas akademika, serta masyarakat umum.

Tahun ini, Untag Surabaya mengangkat lakon Wahyu Katentreman yang dimainkan oleh Ki Minto Darsono dan Ki Thathit Kusuma Wibathsuh sebagai dalang.









Suasana semakin meriah dengan kehadiran Cak Percil Cs serta kelompok karawitan Sekar Gadung Indonesia yang menghibur masyarakat sepanjang acara.

Rektor Untag Surabaya, Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., mengatakan pemilihan lakon Wahyu Katentreman memiliki makna tersendiri bagi keluarga besar YPTA Surabaya.

Menurutnya, lakon tersebut menjadi doa agar ketenteraman senantiasa hadir di lingkungan YPTA Surabaya. “Kami memilih lakon ini karena berharap semoga katentreman selalu hadir di lingkungan YPTA. Kami ingin melestarikan kebudayaan dan bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan masyarakat,” ujar Harjo.

Sementara itu, Ketua YPTA Surabaya, J. Subekti, S.H., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini telah bekerja keras dalam membangun dan memajukan Untag Surabaya.

Ia mengajak seluruh keluarga besar Untag Surabaya untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan memberikan kontribusi terbaik bagi universitas. “Saya pribadi berterima kasih atas kerja sama dan kerja keras seluruh bagian dari universitas. Tetes keringat kalianlah yang melaksanakan tanggung jawab pekerjaan sebaik-baiknya. Mari terus membangun Untag sebaik-baiknya selamanya,” tuturnya.

Bagi masyarakat yang hadir, malam perayaan Dies Natalis ke-68 Untag Surabaya bukan hanya tentang menikmati kesenian tradisional.

Ada kejutan lain yang membuat antusiasme warga semakin tinggi.

Untag Surabaya menyediakan kupon undian dengan total hadiah mencapai puluhan juta rupiah. Salah satu hadiah yang paling dinanti adalah satu unit sepeda motor.

Satu per satu hadiah dibagikan hingga membuat masyarakat semakin penasaran menunggu nomor kupon mereka disebut.

Yanti, warga Semolowaru, menjadi salah satu masyarakat yang beruntung. Ia pulang dengan membawa hadiah berupa dispenser.

Bagi Yanti, kehadiran pagelaran wayang kulit yang rutin digelar Untag Surabaya menjadi hiburan sekaligus ruang kebersamaan bagi masyarakat.

“Semoga di ulang tahun Untag Surabaya ini semakin jaya, dan rutin mengadakan pagelaran untuk masyarakat seperti ini,” ungkap Yanti.

Kebahagiaan yang lebih besar dirasakan Zakaria, warga Manyar.

Namanya keluar sebagai penerima hadiah utama berupa satu unit sepeda motor lengkap dengan helm.

Mendapatkan hadiah tersebut secara tak terduga membuat Zakaria mengaku sangat bersyukur. “Saya sangat bersyukur dan senang sekali mendapatkan hadiah utama sepeda motor beserta helm. Semoga Untag Surabaya semakin maju dan semakin banyak mahasiswanya. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan dan membawa kebahagiaan bagi masyarakat,” ujar Zakaria.

Konsisten Rawat Budaya

Pagelaran wayang kulit tersebut bukan kali pertama digelar Untag Surabaya.

Setiap tahun, kampus yang berada di Jalan Semolowaru, Surabaya, itu menghadirkan pertunjukan wayang kulit sebagai bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis.

Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen Untag Surabaya dalam ikut melestarikan kebudayaan Nusantara.

Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi jembatan yang mempertemukan kampus dengan masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman dan hiburan modern, pagelaran wayang kulit tetap mampu mengundang ribuan masyarakat untuk datang, berkumpul dan menikmati seni tradisi bersama.

Perayaan Dies Natalis ke-68 Untag Surabaya pun tidak hanya menjadi momentum bertambahnya usia institusi, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat budaya sekaligus berbagi kebahagiaan dengan masyarakat.