Oleh: Hendra Dwi Setiyawan

Bacatrend.com, BANTEN – Perjalanan peliputan lima jurnalis bersama seorang nakhoda, seorang anak buah kapal, dan seorang pemandu menuju perairan Gunung Anak Krakatau berubah menjadi operasi pencarian setelah speedboat Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak di Selat Sunda.

Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Hingga Kamis (10/9/2026) pukul 21.39 WIB, delapan orang dalam kapal tersebut masih dalam pencarian.

Dalam operasi itu, TNI Angkatan Laut menemukan satu jaket pelampung berwarna oranye dan sebuah benda putih berbentuk silinder. Namun, Basarnas dan TNI AL belum memastikan apakah kedua benda tersebut berkaitan dengan Arupadhatu 1.









Delapan Orang dalam Perjalanan

Berdasarkan data yang diberitakan ANTARA, lima jurnalis dalam rombongan tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto ANTARA; Ari Basuki, pewarta foto Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, pewarta foto iNews.id; Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency; serta Donal Husni, pewarta foto lepas.

Tiga orang lainnya adalah Warta sebagai nakhoda, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu perjalanan.

Mereka bertolak dari Carita menuju kawasan Anak Krakatau untuk melakukan kegiatan peliputan. Perjalanan laut menuju kawasan tersebut dalam kondisi normal diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua jam.

Waktu Kontak Terakhir Masih Perlu Dipastikan

Sekitar pukul 14.42 WIB, salah seorang penumpang dilaporkan sempat membagikan lokasi kepada seorang jurnalis di Lampung. Posisi yang dikirim berada di antara Carita dan Anak Krakatau.

Komunikasi kemudian dilaporkan terputus sekitar pukul 15.04 WIB. Akan tetapi, terdapat informasi lain bahwa Heriyanto sempat menghubungi istrinya sekitar pukul 18.13 WIB dan menyampaikan bahwa rombongan berada di sekitar Anak Krakatau.

Perbedaan waktu tersebut kemungkinan berasal dari komunikasi dengan penerima yang berbeda. Karena itu, penentuan kontak dan posisi terakhir harus menunggu validasi data komunikasi, rekaman lokasi, serta keterangan resmi pihak berwenang.

Penyebab hilangnya kontak Arupadhatu 1 juga belum diketahui. Belum ada keterangan resmi yang menyatakan kapal tenggelam, terbalik, atau terdampak langsung aktivitas vulkanik.

Lebih dari 300 Personel Dikerahkan

Basarnas memperluas wilayah pencarian menjadi enam sektor dengan melibatkan lebih dari 300 personel dan 11 kapal dari berbagai instansi.

Armada yang dikerahkan antara lain KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, KRI Lepu-861, KAL Anyer I-3-64, KAL Pohawang I-3-30, KN SAR Tetuka-247, KN SAR Basudewa-224, KP Sanjaya-7017, serta sejumlah perahu cepat dari Basarnas dan TNI AL.

Pencarian melalui udara juga dilakukan menggunakan helikopter Dauphin AS365 N3+ HR-3604. Hingga Kamis petang, penyisiran udara belum menemukan tanda yang terkonfirmasi berkaitan dengan kapal maupun rombongan yang dicari.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, sebagaimana diberitakan ANTARA, mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali untuk memperkuat operasi pencarian.

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyatakan operasi SAR akan dioptimalkan selama tujuh hari berturut-turut sebelum dilakukan evaluasi. Pelaksanaannya mengacu pada pedoman International Aeronautical and Maritime Search and Rescue atau IAMSAR serta Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.

Jaket Pelampung Ditemukan di Barat Anyer

KAL Anyer menemukan satu jaket pelampung dan benda putih berbentuk silinder pada Kamis sekitar pukul 15.10 WIB.

Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani mengatakan benda tersebut ditemukan pada koordinat 06°04′40″ Lintang Selatan dan 105°45′17″ Bujur Timur.

Lokasinya diperkirakan sekitar 7,5 mil laut atau hampir 14 kilometer di sebelah barat perairan Anyer dan sekitar 20 mil laut atau 37 kilometer di timur laut Anak Krakatau.

Kedua benda kemudian dibawa ke posko SAR gabungan untuk diperiksa dan dicocokkan dengan perlengkapan Arupadhatu 1. Wawan meminta masyarakat tidak menghubungkan barang temuan tersebut dengan kapal yang dicari sebelum proses identifikasi selesai.

Pemilik Arupadhatu 1, Sandi Wiyasa, sebagaimana diberitakan detikNews, menyatakan warna jaket pelampung yang ditemukan berbeda dari perlengkapan di kapalnya. Menurut keterangan yang diterimanya dari pihak kapal, jaket pelampung di Arupadhatu 1 berwarna merah dan hijau terang.

Pernyataan itu masih merupakan identifikasi awal berdasarkan ciri visual. Hingga pembaruan resmi pukul 21.39 WIB, TNI AL masih menunggu hasil identifikasi Basarnas dan unsur berwenang lainnya.

Dengan demikian, jaket pelampung tersebut belum dapat disebut milik Arupadhatu 1 maupun salah seorang dalam rombongan.

Anak Krakatau Berstatus Siaga

Operasi pencarian berlangsung saat Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga. BNPB dan PVMBG mengimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Status tersebut menjadi salah satu risiko yang harus diperhitungkan dalam operasi pencarian dan kegiatan peliputan. Namun, aktivitas vulkanik belum dapat dikaitkan sebagai penyebab hilangnya kontak kapal tanpa bukti navigasi, data cuaca, posisi terakhir, dan pemeriksaan teknis.

Selain aktivitas gunung api, tim SAR menghadapi luasnya wilayah pencarian, perubahan arus dan gelombang, serta keterbatasan jarak pandang di sejumlah bagian perairan Selat Sunda.

Dewan Pers Ingatkan Keselamatan Jurnalis

Dewan Pers terus berkoordinasi dengan organisasi pers, Basarnas, dan PVMBG untuk memantau perkembangan pencarian.

Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto berharap seluruh jurnalis dan kru dapat segera ditemukan dalam keadaan selamat. Ia mengingatkan perusahaan pers dan jurnalis agar menempatkan keselamatan sebagai prioritas tertinggi ketika menjalankan peliputan di wilayah rawan bencana.

“Tugas liputan itu prioritas, tetapi prioritas yang lebih tinggi tentu keselamatan kru,” kata Totok dalam tayangan Metro TV, Rabu (9/9/2026).

Peristiwa ini menegaskan pentingnya penilaian risiko, manifest penumpang, perlengkapan keselamatan, alat komunikasi darurat, rencana perjalanan, serta koordinasi dengan otoritas sebelum melakukan peliputan di kawasan laut dan wilayah rawan bencana.

Sementara pencarian terus dilakukan melalui laut dan udara, keluarga serta rekan-rekan rombongan Arupadhatu 1 masih menunggu kabar dari Selat Sunda.

Informasi yang telah terverifikasi hingga Kamis, 10 September 2026 pukul 21.39 WIB. Status operasi SAR dan hasil identifikasi barang temuan dapat berubah setelah keterangan resmi berikutnya diterbitkan.

Sumber Data Referensi

  1. detikNews – “TNI AL Temukan Pelampung-Botol Saat Cari Jurnalis-Kru Kapal yang Hilang Kontak” – Arief Ikhsanudin – 10 September 2026.
  2. detikNews – “Pemilik Kapal Rombongan Jurnalis Pastikan Pelampung Temuan TNI AL Bukan Miliknya” – 10 September 2026.
  3. ANTARA News – “TNI Tunggu Identifikasi Basarnas Temuan Pelampung Operasi SAR Jurnalis” – 10 September 2026.
  4. ANTARA News – “5 Jurnalis Hilang Saat Liput Gunung Anak Krakatau, Ini Kronologinya” – September 2026.
  5. ANTARA News – “Basarnas Kerahkan 11 Kapal Cari Jurnalis Hilang di Anak Krakatau” – 10 September 2026.
  6. ANTARA News – “Basarnas Pastikan Operasi Pencarian Jurnalis Dioptimalkan Satu Pekan” – 10 September 2026.
  7. ANTARA News/BNPB – “BNPB Imbau Tak Ada Aktivitas di Radius 3 Km dari Gunung Anak Krakatau” – 10 September 2026.
  8. MetroTVNews – “Dewan Pers Pantau Pencarian 5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau” – Firny Firlandini Budi – 9 September 2026.
  9. Associated Press – Laporan pencarian lima jurnalis, dua awak kapal, dan seorang pemandu di sekitar Anak Krakatau – September 2026.