Dari Gerobak Dorong ke Baitullah, Cerita Perjalanan Penjual Jamu Menuju Tanah Suci
Bacatrend, Surabaya – Di balik debu jalanan dan riuhnya keramaian kota, tersimpan kisah hidup yang menyentuh kalbu. Mbah Diyem Wiryo Rejo, sosok wanita tangguh asal Gedongan, Kota Mojokerto, telah menapaki perjalanan yang sarat pengorbanan demi menggapai mimpi suci, berhaji ke Tanah Suci.
Di usia 65 tahun, setelah bertahun-tahun mengayuh gerobak jamu keliling, ia akhirnya diberi kesempatan untuk melangkah ke Baitullah, simbol keabadian iman dan harapan.
Dalam momen penerimaan jemaah haji di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, mbah Diyem mengungkapkan kebahagiaan yang terpancar dari matanya.
“Alhamdulillah, setelah mendaftar haji pada tahun 2012, tahun 2025 ini saya dapat berangkat ke Tanah Suci. Senang dan bersyukur sekali rasanya,” katanya.
Perjalanan menuju mimpi itu tidak terjadi begitu saja. Di sela-sela kesibukannya mendorong gerobak, Mbah Diyem dengan sabar menyisihkan setiap rupiah yang tersisa.
Setiap malam, di balik keheningan rumah, ia mulai menabung sedikit demi sedikit. Saat sejenak rezeki datang menghampiri, ia dengan tekun mengumpulkan uang hingga mencapai satu juta rupiah, lalu menyimpannya di bank sebagai bekal perjuangan.
Mengisahkan pengabdiannya pada tiap helai tabungan, ia berkata “Saya kumpulkan uang sedikit demi sedikit di rumah untuk ditabung. Kalau lagi ada rezeki, satu bulan sudah dapat terkumpul uang satu juta. Kalau belum ada, ya bisa berbulan-bulan baru bisa terkumpul satu juta. Kalau sudah satu juta, saya tabung ke bank.”
Perjuangan mbah Diyem bukanlah semata-mata langkah individu. Dalam dentuman takdir, keinginan suci untuk berhaji juga tumbuh bersama kehadiran sang suami, yang pada masanya mengumpulkan tabungan dari usaha berjualan nasi goreng.
Bersama-sama mereka menuliskan kisah dimana mimpi besar tumbuh dari usaha kecil sehari-hari. “Saya mendaftar haji bersama suami. Kebetulan beliau pun ada tabungan untuk mendaftar haji dari hasil pekerjaannya sebagai penjual nasi goreng,” ungkapnya.
Dorongan semangat tak datang hanya dari dalam diri, tetapi juga dari teman-teman yang selalu memberi penyemangat.
Saat tabungan itu semakin bertambah, seorang sahabat menyarankan—sebuah kata yang menggugah tekadnya. “Ketika saya menabung itu, teman saya bilang kalau kamu ada tabungan, buat daftar haji saja. Dari situ saya timbul keinginan kuat untuk mendaftar haji,” pungkasnya.
Di balik senyum tulusnya, tersimpan lika-liku perjalanan sebagai penjual jamu keliling. Setiap hari, mbah Diyem mengayuh gerobak dengan penuh keyakinan, menyajikan ramuan tradisional yang bukan hanya menjual rezeki, tetapi juga menyatu dengan harapan. “Namanya juga jualan, kalau waktu sepi ya tidak segitu. Penting balik modal,” tegasnya.
Kenangan masa kecil yang penuh perjuangan pun terukir di setiap langkahnya. Di usia sebelas tahun, kala anak seusianya masih larut dalam tawa dan keceriaan, ia telah mencicipi pahit getir dunia jualan. Dengan lirih penuh keikhlasan, ia mengenang masa itu.
“Saya sangat bersyukur dengan apa yang sudah saya raih. Ingat waktu saya awal-awal jualan jamu pada usia sebelas tahun, sekitar tahun 1970. Saya lebih susah saat itu karena jualan jamu gendong. Anak-anak seusia saya masih senang main, saya sudah jualan jamu gendong keliling. Kalau lama tidak ada yang beli, saya duduk dulu. Berat kan,” katanya.
Kini, setelah lebih dari lima dekade mengarungi liku hidup dengan gerobak jamu sebagai saksi perjalanan, karunia besar tiba menghampiri. Di tengah tantangan yang tak pernah berhenti, mbah Diyem pun dianugerahi tiket emas menuju Tanah Suci.
Meski usianya tak lagi muda, semangatnya tetap menggelora layaknya api yang menerangi malam. Dengan senyum lapang dan harapan yang membumbung, ia menyampaikan, “Sampai sekarang masih jualan. Ini libur karena naik haji. Kalau tidak jualan badan rasanya pegal semua. Anak-anak sudah melarang tetapi Alhamdulillah badan saya masih sehat dan bisa mandiri. Semoga di Tanah Suci nanti saya dan suami juga diberikan kemudahan dalam beribadah.”
Kisah hidup mbah Diyem adalah puisi perjuangan yang ditulis dengan tinta keikhlasan dan doa-doa yang tulus.
Dari gerobak dorong sederhana yang menjadi saksi kerja kerasnya, kini ia melangkah menuju Baitullah.
Sebuah perjalanan yang tak hanya mengukir sejarah pribadi, tetapi juga menginspirasi ribuan hati yang percaya bahwa mimpi besar dapat tercapai dengan usaha yang tak kenal lelah.











Tinggalkan Balasan