Bacatrend, Jakarta – Dibalik layar megah digitalisasi pendidikan, tersingkap sebuah skandal yang menggetarkan jagat birokrasi.

Kejaksaan Agung (Kejagung) kini tengah mengusut dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Anggaran fantastis sebesar Rp9,9 triliun yang seharusnya menjadi investasi bagi masa depan anak bangsa, justru diduga menjadi ladang permainan licik segelintir pihak.

Kasus ini bermula dari proyek pengadaan laptop untuk digitalisasi pendidikan periode 2019-2023. Namun, sejak awal, proyek ini sudah menuai tanda tanya besar.









Uji coba terhadap 1.000 unit Chromebook pada tahun 2019 menunjukkan hasil yang tidak efektif, sebuah sinyal merah yang seharusnya menjadi peringatan keras.

Namun, alih-alih menghentikan proyek, skenario lain justru dimainkan. Penyidik menduga adanya pemufakatan jahat yang mengarahkan tim teknis agar tetap meloloskan pengadaan laptop ini, meskipun efektivitasnya dipertanyakan.

Kejagung pun bergerak cepat. Pada 21 Mei 2025, penyidik melakukan penggeledahan di dua apartemen di Jakarta yang diduga milik seorang pejabat Kemendikbudristek. Dari penggeledahan ini, sejumlah dokumen dan barang bukti elektronik berhasil disita.

Anggaran Fantastis, Manfaat Dipertanyakan
Anggaran proyek ini mencapai Rp9,9 triliun, terdiri dari Rp3,5 triliun dari satuan pendidikan dan Rp6,3 triliun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Namun, pertanyaan besar muncul: Apakah laptop-laptop ini benar-benar bermanfaat bagi pendidikan?

Fakta bahwa Chromebook berbasis internet menjadi tantangan tersendiri. Di Indonesia, akses internet belum merata, terutama di daerah terpencil. Bagaimana mungkin laptop berbasis internet bisa efektif jika koneksi saja masih menjadi kendala?

Kapuspenkum Kejagung, Harli Siregar, menyoroti hal ini dengan tegas: “Karena kita tahu bahwa dia berbasis internet, sementara di Indonesia internetnya itu belum semua sama, bahkan ke daerah-daerah, sehingga diduga ada persekongkolan di situ,”.

Misteri yang Masih Diselidiki
Hingga saat ini, Kejagung belum mengungkap siapa saja pihak yang terlibat dalam dugaan korupsi ini. Namun, penyidik terus mendalami kasus ini dan menghitung potensi kerugian negara akibat permainan licik di balik proyek ambisius ini.

Di tengah harapan besar akan pendidikan yang lebih maju, kasus ini menjadi tamparan keras bagi sistem yang seharusnya mengutamakan kepentingan rakyat. Akankah keadilan benar-benar ditegakkan? Ataukah ini hanya akan menjadi satu lagi bab dalam buku panjang korupsi negeri ini?