Bacatrend, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk embarkasi haji Surabaya, satu sosok memancarkan cahaya yang tak tertandingi bernama Marhamah, nenek berusia 104 tahun dari Pamekasan, Madura.

Wanita yang telah menaklukkan zaman ini bukan sekadar penumpang biasa. Ia adalah legenda hidup, jemaah haji tertua di Jawa Timur tahun 2025, yang dengan gagah berani mematahkan anggapan bahwa usia adalah batas mimpi. 

“Ibu sudah menunggu momen ini selama enam tahun terakhir,*” tutur Ayyamah (40), anak kedelapan Marhamah, dengan suara bergetar penuh haru.

“Dari hasil bertani yang tak seberapa, tetes demi tetes keringat beliau mengalir menjadi tabungan suci untuk menyentuh Ka’bah,” tambahnya.









Di usia yang telah melampaui satu abad lebih, Marhamah bukan hanya hidup, ia “berkilau”. Kulitnya yang berkeriput menyimpan cerita-cerita panjang, namun matanya masih berbinar seperti remaja yang pertama kali jatuh cinta. Rahasianya? 

“Ibu tak pernah melupakan sayur rebus dan lauk bergizi. Tiada gorengan, tiada keluh kesah,” ungkap Ayyamah, sambil tersenyum bangga. 

Dan ketika ia berbicara, dunia seakan berhenti sejenak. 

“Alhamdulillah, meskipun sudah tua, saya masih kuat!,” seru Marhamah dengan suara lantang yang menggetarkan hati, senyumnya merebak bak purnama di malam Jeddah. “Semoga Allah memudahkan langkah kaki ini ke Baitullah,” tambahnya.

Esok hari, Jumat sore, Marhamah akan menjejakkan kaki di Bandara Internasional Juanda, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pejuang.

Dengan kursi roda sebagai kendaraannya dan doa sebagai bahan bakarnya, ia akan melesat menuju Tanah Suci, didampingi Ayyamah, sang anak yang setia. 

Tapi jangan salah, keterbatasan fisik tak ada artinya dibanding kobaran iman di dadanya. 

“Ini bukan tentang bisa atau tidak bisa. Tapi tentang seberapa besar hati Ibu menyimpan cinta pada-Nya,” bisik Ayyamah.

Dan di sudut embarkasi haji Surabaya, seorang wanita 104 tahun itu pun tersenyum karena ia siap menulis sejarah baru di atas tanah suci.