Bacatrend, Surabaya – Surabaya, Kota Pahlawan, tak hanya berjuang di medan perang masa lalu.

Kini, ia bertarung dalam perang sosial yang tak kalah genting, melawan praktik pernikahan anak yang masih menghantui masa depan generasi muda.

Tahun 2024 menjadi titik balik. Dalam data terbaru Pengadilan Agama, angka dispensasi kawin (diska) di Surabaya mencatat penurunan drastis sebesar 61,63 persen sebuah kemenangan bagi mimpi-mimpi yang seharusnya tak terkubur di bawah kewajiban pernikahan dini.

Intervensi yang Mengubah Nasib Ribuan Anak
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi angkat bicara soal keyakinannya dalam perjuangan ini.









“Surabaya telah membuktikan bahwa ketika masyarakat dan pemerintah bergerak bersama, kita bisa melawan tradisi yang telah lama mencengkeram harapan anak-anak kita,” tegasnya.

Bukan sekadar angka, tetapi perubahan nyata. Setelah MoU antara Pemkot dan Pengadilan Agama, kelurahan kini menolak menerbitkan surat keterangan belum menikah (N1) bagi pasangan yang belum memenuhi usia ideal.

Praktik ini menjadi tameng terakhir bagi anak-anak yang nyaris terpaksa menikah karena tekanan lingkungan.

Tak hanya soal larangan. Pemkot Surabaya memahami bahwa hukum tanpa edukasi hanyalah lembaran kertas. Program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), Puspaga, dan Balai RW menjadi benteng yang lebih lunak, tetapi tak kalah kuat.

Pendekatan berbeda diterapkan di berbagai wilayah. Di Surabaya Utara, tokoh agama dilibatkan sebagai juru bicara utama, menyampaikan bahaya pernikahan anak dengan bahasa yang lebih diterima oleh masyarakat.

“Kami tidak ingin hanya melarang, tetapi juga mengajarkan. Anak-anak berhak atas masa depan mereka, bukan dipaksa menanggalkan mimpi demi pernikahan dini,” ujar Ida Widayati, Kepala DP3APPKB Surabaya.

Surabaya telah melangkah lebih jauh dari sekadar kota metropolitan. Sebagai kandidat Child Friendly Cities Initiative (CFCI) UNICEF, kota ini berambisi tak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga teladan bagi perlindungan anak.

Pemkot tak sekadar menekan angka perkawinan anak, tetapi menghubungkan semua elemen dalam ekosistem yang kuat—dari RT/RW, lembaga pendidikan, hingga SDM terlatih seperti Kader Surabaya Hebat dan Konselor Puspaga.

Di balik kebijakan dan angka statistik, perjuangan ini adalah tentang anak-anak yang kini tak lagi melihat pernikahan dini sebagai satu-satunya jalan.

“Surabaya tidak akan berhenti berinovasi. Tetapi yang lebih penting, kami akan terus berjuang bersama, memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk membangun masa depannya,” tutup Wali Kota Eri.

Kota ini tak hanya mempertahankan sejarahnya. Ia sedang menulis masa depan—bukan dengan senjata, tetapi dengan harapan.