Bacatrend, Krian – Sore itu, langit Krian, Sidoarjo, memang tampak biasa-biasa saja.

Namun siapa sangka, di balik deru kendaraan yang berlalu-lalang di Jalan Raya By Pass Krian, sebuah drama tragis mengoyak batin siapa pun yang menyaksikan.

Di sebuah tempat cucian truk sederhana bernama Tirta Abadi, tangis pilu dan kepanikan tumpah ruah—melukis duka yang tak terperi.

Sebuah video pendek berdurasi 45 detik viral di jagat maya. Di balik gambarnya yang bergoyang karena tangan yang gemetar, tergambar nyata kepanikan para pekerja.









Suara-suara serak memanggil pertolongan, sementara tubuh-tubuh malang tergeletak tak berdaya di dalam sebuah tangki truk tronton raksasa.

Tangki yang awalnya hanya wadah pengangkut oli bekas, mendadak menjelma menjadi perangkap maut.

Petaka itu bermula ketika truk tangki kosong bermerek Hino, usai mengirim residu oli bekas dari Serang, Banten ke Tuban, Jatim, tiba di cucian tersebut. Tanpa curiga sedikit pun akan bahaya yang mengintai, seorang pekerja yang dikenal ulet, S (40), turun ke dalam tangki demi membersihkannya.

Namun tak lama, tubuhnya ambruk. Nafasnya terhenti seketika, dicekik senyap oleh zat kimia yang masih mengendap di dalam sana.

Melihat rekannya terkulai, dua pekerja lain dengan naluri kemanusiaan bergegas menyusul masuk.

Namun, alih-alih membawa pertolongan, mereka justru menyusul terperangkap dalam koma yang mematikan. Warga sekitar, yang tergerak hatinya, berupaya turun tangan. Namun takdir berkata lain.

Asap dan uap racun itu seolah menghisap kesadaran siapa pun yang berani mendekat.

“Telah terjadi laka kerja diduga akibat keracunan zat kimia jenis residu atau oli bekas di dalam tangki truk tronton,” kata Iptu Tri Novi Handono, Kasi Humas Polresta Sidoarjo.

Warga yang tak kuasa lagi menahan cemas segera menghubungi tim pemadam kebakaran. Dengan perlengkapan lengkap, mereka akhirnya berhasil menarik lima tubuh tak sadarkan diri dari cengkeraman tangki maut itu.

Lima nyawa diangkat satu per satu dari kubur besi yang sunyi itu, lalu dilarikan ke RSU Anwar Medika dan RSU Yapalis Krian.
Namun, ajal lebih dulu menjemput dua di antara mereka.

DAP (23), pemuda Krian yang dikenal ramah, dan S (40), pekerja gigih asal Semboro, Jember, kini tinggal nama. Sementara tiga lainnya, S (57) asal Probolinggo, S (44) dan M (51) dari Krian, masih bertarung antara hidup dan mati di ruang perawatan.

Tangki itu kini membisu. Seolah menyimpan semua jerit dan rintih mereka yang terkunci di dalamnya. Sementara polisi terus mengusut, memeriksa para saksi dan pemilik cucian, berharap tragedi ini tak kembali berulang.

Sidoarjo menangis. Dan dunia seolah turut berduka atas para pekerja keras yang gugur dalam sunyi, demi sesuap nasi.