Bacatrend, Surabaya – Malam itu, angin seolah berbisik syahdu di pelataran Asrama Haji Surabaya. Jarum jam baru menunjukkan pukul 00.30 WIB, tetapi cahaya mata Nurul Hasanah sudah menyiratkan kebahagiaan yang tak terperi.

Dengan mata berkaca-kaca, jemaah haji kloter SUB 24 asal Desa Banasare, Kecamatan Rubaru, Sumenep itu mengucap syukur karena akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci bersama sang suami tercinta, Muhammad Latif.

“Siapa sangka, di usia kami seperti ini, dan dengan segala ujian yang menimpa, Allah SWT tetap memberikan jalan terbaik untuk kami sampai ke Baitullah,” ucap Nurul lirih, seolah menahan luapan haru yang membuncah di dadanya.

Kisah Nurul dan Latif bukan kisah biasa. Tahun 2012, kala mereka mendaftarkan diri untuk berhaji, kehidupan pasangan ini tengah berada di puncak kejayaan. Latif sukses merantau ke Malaysia sejak 2004, dengan usaha jual beli rumah yang mapan. Namun, takdir berkata lain. Tahun 2015, Latif diserang stroke hebat saat berada di perantauan.









“Subhanallah… semua harta yang kami kumpulkan habis untuk biaya pengobatan. Kami tanggung sendiri, tak ada asuransi, tak ada bantuan. Operasi kepala suami saya karena pembuluh darah otaknya pecah menghabiskan sekitar 500 juta rupiah. Semua demi nyawanya,” tutur Nurul, suaranya bergetar penuh kenangan pedih.

Latif yang kini berusia 60 tahun mengenang, “Saya koma 15 hari. Waktu itu hidup rasanya sudah di ujung tanduk.”

Mereka lalu kembali ke kampung halaman, menata ulang hidup dari nol. Latif tak lagi mampu bekerja, dan Nurul menjadi tulang punggung keluarga.

Setiap hari ia menjajakan gorengan keliling: ote-ote, pisang goreng, apa saja yang bisa mengganjal perut pembeli dan menambah recehan untuk melunasi ongkos haji.

“Kadang kalau ada pesta, saya tambah jualan rujak. Lumayan bisa lebih banyak dapat untung,” kisah ibu dua anak ini dengan senyum getir.

Dua hari menjelang keberangkatan, uang mereka hanya tersisa seribu rupiah. Tapi kasih sayang Allah hadir lewat tangan saudara dan tetangga yang menyisihkan rezeki untuk bekal mereka menuju Tanah Suci.

Keajaiban tak berhenti di situ. Di Makkah dan Madinah, kamar Nurul dan Latif selalu berdekatan. “Alhamdulillah, hotelnya bagus, pelayanannya juga baik,” ucap Nurul.

Dengan tabah, Nurul sendiri yang mendorong kursi roda sang suami, bahkan saat ibadah di Armuzna.

Untuk tawaf, ia mengeluarkan biaya dari uang yang disisihkan: mobil golf seharga sejuta rupiah atau jasa sesama jemaah yang jauh lebih terjangkau dibanding warga setempat.

“Meski suami saya pakai kursi roda, Allah beri kami kekuatan. Kami bisa jalani semua ibadah tanpa sakit berat. Hanya batuk pilek biasa,” ucapnya penuh syukur.

Di setiap sujudnya, Nurul memanjatkan doa agar dosa dirinya dan keluarganya diampuni Allah SWT.

Subuh itu, bis yang membawa Nurul dan Latif pulang ke Sumenep perlahan melaju keluar dari Asrama Haji Surabaya pukul 02.00.

Seolah membawa pulang sepasang jiwa yang telah dimurnikan di Tanah Suci, usai menggoreskan cerita cinta, pengorbanan, dan keimanan yang tak akan lekang oleh waktu.