Bacatrend, Jakarta – Istilah “batu hati” mungkin terdengar puitis, tapi dalam dunia medis, ini adalah kondisi serius yang bisa mengganggu fungsi vital tubuh.

Batu hati, atau lebih tepatnya batu empedu, terbentuk dari endapan kolesterol, bilirubin, dan garam empedu yang mengeras di kantong empedu—organ kecil di bawah hati yang menyimpan cairan empedu untuk membantu pencernaan lemak2.

Apa Penyebabnya?
Menurut Harvard Health Publications, sekitar 80% batu empedu terbentuk dari kolesterol berlebih yang tidak larut dalam empedu. Sisanya berasal dari kelebihan bilirubin, zat hasil pemecahan sel darah merah, atau karena empedu terlalu pekat akibat kantong empedu tidak mengosongkan diri secara optimal2.

Faktor risiko lainnya meliputi:









Obesitas dan pola makan tinggi lemak

Diabetes

Konsumsi pil KB atau terapi hormon estrogen

Riwayat keluarga dengan batu empedu

Usia di atas 40 tahun dan jenis kelamin perempuan

Ciri-Ciri yang Sering Diabaikan
Batu empedu sering kali tidak menunjukkan gejala hingga ukurannya cukup besar atau menyumbat saluran empedu. Namun, beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain:

Nyeri tajam di perut kanan atas, terutama setelah makan berlemak

Mual dan muntah

Perut kembung dan gangguan pencernaan

Kulit dan mata menguning (jaundice)

Urine gelap dan tinja berwarna pucat6

Herbal Penolong dari Alam
Beberapa tanaman herbal telah diteliti secara ilmiah dan terbukti membantu meringankan gejala atau mencegah pembentukan batu empedu:

Milk Thistle (Silybum marianum): Mengandung silymarin yang mendukung regenerasi sel hati dan detoksifikasi9

Kunyit: Kurkumin di dalamnya bersifat antiinflamasi dan membantu produksi empedu

Peppermint: Merelaksasi otot saluran empedu dan membantu aliran empedu lebih lancar

Artichoke: Meningkatkan produksi empedu dan menurunkan kadar kolesterol

Cuka apel dan chia seeds: Membantu menyeimbangkan kadar kolesterol dan mendukung pencernaan

Dalam jurnal Healthline dan WebMD, disebutkan bahwa deteksi dini dan perubahan gaya hidup adalah kunci utama. “Batu empedu bisa dicegah dengan menjaga berat badan ideal, menghindari makanan tinggi lemak jenuh, dan memperbanyak serat,” tulis Mayo Clinic Proceedings dalam ulasan tahunannya.

Sementara itu, Journal of Hepatology menekankan pentingnya skrining rutin bagi kelompok berisiko tinggi, terutama wanita usia produktif dan penderita diabetes.