Bacatrend, Surabaya – Sore itu, Asrama Haji Debarkasi Surabaya mendadak berubah menjadi panggung cinta dan kerinduan. Bukan karena parade selebritas atau pesta negara, tetapi karena kembalinya para tamu Allah dari Tanah Suci.

Dan bukan sambutan biasa yang menanti mereka—melainkan barisan mobil yang berubah wujud menjadi kereta bunga, dihiasi pita, mawar, hingga hiasan hati yang berkilau di bawah cahaya senja. Seolah setiap kendaraan itu berkata: “Selamat datang kembali, wahai jiwa-jiwa suci.”

Kloter 26 asal Sampang, Madura, mendarat di pelataran asrama dengan wajah lelah namun bersinar. Di hadapan mereka, keluarga yang menunggu nyaris tak mampu membendung air mata. Peluk erat, isak syukur, dan ciuman di kening menjadi ritual penyambutan yang lebih sakral dari sekadar formalitas.

“Ibu pulang dalam keadaan sehat… itu lebih dari cukup bagi kami,” kata Sam, pemuda asal Sampang yang berdiri di samping mobil Toyota miliknya yang kini terlihat seperti dekorasi panggung pernikahan. “Kami sengaja hias seperti ini. Karena untuk kami, kepulangan Ibu setara dengan pesta kemenangan. Ini haji mabrur, bukan hanya ibadah tapi perjuangan,” ujarnya dengan suara bergetar, matanya memerah.









Setiap pita yang melingkari spion mobil, setiap balon yang menari di atas kap mesin, menyimpan kisah rindu yang mendidih sejak kepergian orang-orang terkasih ke Tanah Suci. Ada yang menabur bunga melati, ada pula yang menggantung foto keluarga sebagai tanda “akhirnya kita berkumpul lagi”.

Tentu saja, keramaian ini sempat membuat lalu lintas di sekitar asrama tersendat. Tapi siapa yang tega marah pada kegembiraan yang begitu tulus? Bahkan petugas keamanan pun tersenyum melihat lautan cinta yang memenuhi halaman parkir.

“Saya melihat mobil-mobil itu bukan sebagai kendaraan, tapi sebagai ungkapan rasa syukur,” bisik seorang jemaah perempuan dengan suara bergetar, sembari menahan haru. Ia menatap suaminya yang berdiri di kejauhan, membawa bunga dan senyum yang belum pernah ia lihat sedalam ini.

Momentum ini bukan hanya soal penjemputan. Ini adalah pelajaran tentang betapa sucinya sebuah pertemuan setelah perpisahan yang dilandasi keimanan. Tentang bagaimana keluarga di Madura tidak hanya menanti, tapi menyambut dengan seluruh cinta yang mereka punya.

Maka jika ada yang bertanya seperti apa wajah kebahagiaan itu—datanglah ke halaman Asrama Haji saat jemaah pulang dari Mekkah. Di sana, kebahagiaan punya bentuk: pita warna-warni, bunga yang menguar harumnya, dan tawa yang menyatu dengan isak syukur.