Ketika Kota Menolak Diam Melihat Anak-anaknya Tersesat, Jam Malam pun Berlaku!
Bacatrend, Surabaya — Di tengah riuhnya kota yang tak pernah benar-benar tidur, Pemerintah Kota Surabaya tengah menyiapkan sebuah langkah monumental: membatasi malam bagi anak-anaknya.
Bukan sekadar aturan, tapi seruan moral yang lahir dari keresahan kolektif—bahwa terlalu banyak anak pulang larut tanpa arah, dan terlalu banyak orang tua yang tak lagi bertanya, “Kamu di mana?”
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyampaikan rencana ini bukan di ruang rapat yang kaku, melainkan di tengah pelukan hangat warga RW 4 Tambaksari, dalam forum parenting bertajuk Ayah Hebat Surabaya.
Di sana, ia tak hanya berbicara sebagai pemimpin, tapi sebagai ayah yang gelisah melihat anak-anak kota tumbuh tanpa pagar sosial yang cukup kokoh.
“Kalau bukan kita yang menjaga mereka, siapa lagi?” ucapnya, disambut anggukan para ayah dan ibu yang hadir secara langsung maupun daring.
Surat Edaran tentang pembatasan jam malam tengah dirumuskan. Batasnya jelas: pukul 21.00 WIB, orang tua harus tahu ke mana anaknya pergi.
Lewat pukul 22.00 WIB, jika belum pulang, maka pengurus RW dan layanan darurat 112 akan dilibatkan. Ini bukan ancaman, tapi pelukan keras dari kota yang tak ingin kehilangan generasi mudanya di tikungan malam.
Kebijakan ini bukan tanpa preseden. Tahun 2022, saat geng motor merajalela, Surabaya pernah membungkam malam dengan semangat gotong royong.
Kini, semangat itu hendak dihidupkan kembali—lebih luas, lebih dalam, lebih menyentuh akar keluarga.
“Anak-anak yang masih berkeliaran tanpa tujuan akan kami amankan. Bukan untuk dihukum, tapi untuk mencari tahu: di mana orang tuanya? Kenapa mereka tidak mencarinya?” ujar Eri, dengan nada yang lebih seperti teguran lembut daripada perintah.
Ketua RW 4 bahkan mengusulkan agar pengawasan diperluas ke taman-taman kota, tempat anak-anak sering berkumpul tanpa pengawasan. Dan Pemkot menyambutnya. Patroli akan digencarkan.
Pos kamling akan dihidupkan. Kota akan berjaga, bukan karena takut, tapi karena cinta.
Bagi anak-anak yang sulit diarahkan, Surabaya tak hanya memberi larangan, tapi juga harapan.
Rumah Ilmu Arek Surabaya (RIAS) menjadi tempat di mana anak-anak yang gemar berkelahi bisa diarahkan menjadi petinju, bukan pelaku kekerasan. Di sana, bakat tak dibungkam, tapi dibentuk.
“Empat tahun terakhir, kita lengah. Dan lihat apa yang terjadi: tawuran, pencurian, anak-anak yang hilang arah. Ini saatnya kita bangkit. Bukan hanya sebagai pemerintah, tapi sebagai keluarga besar bernama Surabaya,” tegas Eri.
Malam memang milik semua. Tapi bagi anak-anak Surabaya, malam kini akan punya batas—bukan untuk membatasi mimpi, tapi untuk memastikan mereka masih punya rumah untuk pulang.











Tinggalkan Balasan