Bacatrend, Surabaya – Minggu pagi itu, Asrama Haji Debarkasi Surabaya tidak hanya menyambut kedatangan 376 jamaah haji Kloter 33 asal Jember dan Bondowoso—ia menyambut kisah dramatis tentang keajaiban, keteguhan hati, dan rasa syukur yang tak terukur.

Usai menjalani rukun Islam kelima, para jemaah ini kembali ke tanah air tak hanya dengan oleh-oleh dari Tanah Suci, tetapi juga membawa satu kenangan tak terlupakan: sebuah ancaman bom yang membuat pesawat Saudi Airlines yang mereka tumpangi harus mendarat darurat di Bandara Kualanamu, Medan, Sabtu (21/6).

Namun pagi itu, tak ada jejak ketakutan di wajah para lansia yang melangkah mantap turun dari 10 bus yang membawa mereka ke asrama. Yang ada justru senyum tulus, mata berkaca-kaca, dan pelukan panjang yang seolah ingin berkata, “Kami telah melewati badai.”

“Alhamdulillah, kami semua selamat sampai. Meski sempat tegang, kami anggap kejadian itu sebagai bonus perjalanan. Ada liburan dadakan di Medan,” tutur Sri Wahyuningsih dengan tawa ringan, seolah ingin menetralisasi ketegangan yang sempat menggantung. Baginya, momen singkat itu kini berubah menjadi potongan mozaik pengalaman yang tak akan pernah hilang dari ingatan.









Beberapa jamaah mengisahkan bahwa mereka baru menyadari adanya ancaman sesaat setelah pesawat mendarat. Ketegangan membeku sejenak, namun cepat mencair oleh respons cepat para petugas yang sigap menenangkan, mengamankan, dan mengayomi.

Sekretaris PPIH Debarkasi Surabaya, Sugiyo, menegaskan bahwa seluruh anggota Kloter 33 telah tiba dalam kondisi sehat dan aman. “Tak perlu cemas. Semua dalam pendampingan penuh, dan kami pastikan semua kebutuhan mereka terpenuhi,” ujarnya menenangkan, menambahkan bahwa hingga Minggu pagi, 35 kloter sudah kembali dengan total 13.247 jamaah.

Kisah Kloter 33 bukan hanya tentang perjalanan ibadah. Ia adalah refleksi betapa nyawa, doa, dan harapan bisa berpadu dalam satu titik bernama keselamatan. Dan pagi itu, langit Surabaya seakan ikut menunduk memberi hormat—kepada mereka yang pulang membawa cerita, bukan hanya syal dan kurma.