Ledre Bojonegoro, Gulungan Rasa dari Warisan yang Tak Pernah Retak
Bacatrend, Bojonegoro – Di tengah geliat modernisasi yang menggempur dari segala penjuru, Bojonegoro menyimpan satu gulungan kecil yang tak lekang oleh zaman: ledre.
Ia bukan sekadar camilan, tapi serpihan sejarah yang digulung rapi dalam aroma pisang raja dan renyahnya tradisi.
Konon, ledre pertama kali muncul pada masa kelam penjajahan Jepang, sekitar tahun 1943. Kala itu, kelaparan merajalela, dan bahan pangan menjadi barang mewah.
Di tengah keterbatasan, seorang perempuan keturunan Tionghoa bernama Mak Min Tjie menciptakan keajaiban dari dapur kecilnya di Padangan.
Ia mencampur tepung beras dan gaplek, lalu mengolahnya dengan teknik edre-edre—yang berarti diorak-arik—hingga lahirlah makanan tipis, harum, dan mengenyangkan. Dari bunyi dan proses itulah nama “ledre” lahir.
Kini, ledre telah menjelma menjadi ikon kuliner Bojonegoro. Bentuknya menyerupai semprong, panjang sekitar 20 sentimeter, dengan tekstur renyah dan rasa manis alami dari pisang raja.
Tapi jangan tertipu oleh tampilannya yang sederhana—sekali gigit, kamu akan dibawa pada nostalgia masa kecil, pada sore-sore yang ditemani teh tubruk dan obrolan hangat di beranda rumah.
Yang membuat ledre istimewa bukan hanya rasanya, tapi juga cara pembuatannya. Adonan dituangkan di atas wajan baja panas yang dipanaskan dengan tungku arang, lalu diratakan dengan alat kayu bernama lethok.
Setelah matang, adonan harus segera digulung selagi panas—sebuah proses yang menuntut ketangkasan dan intuisi. Sedikit terlambat, maka ledre akan patah, dan sejarah pun ikut retak.
Di Padangan, sentra utama produksi ledre, aroma pisang dan santan seolah menjadi parfum udara. Di sana, para pengrajin ledre bekerja dengan ritme yang nyaris musikal—tuang, ratakan, gulung, ulang.
Mereka bukan sekadar membuat makanan, tapi merawat warisan. Tak heran jika pada 2021, ledre resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbudristek.
Kini, ledre hadir dalam berbagai varian rasa—cokelat, pandan, stroberi, hingga durian. Namun, ledre klasik tetap menjadi primadona. Ia adalah bukti bahwa dalam dunia yang terus berubah, ada rasa-rasa yang tak pernah usang.











Tinggalkan Balasan