Bacatrend, Cianjur — Sungai Cipendawa, yang biasanya hanya menjadi saksi bisu aliran air dari pegunungan Sukaresmi, kini menyimpan kisah kelam yang mengguncang nurani.

Warga Desa Pakuon dikejutkan oleh penemuan jasad perempuan tanpa busana yang mengambang di antara bebatuan sungai. Ia adalah Shinta Octaviaty Dewi (30), ibu rumah tangga asal Kecamatan Cilaku, Cianjur.

Di balik tragedi ini, terkuak kisah relasi gelap, kekerasan, dan dendam yang berujung maut. Pelakunya, Muhammad Fauzan Saepurohman (27), dikenal sebagai teman dekat korban sekaligus muncikari yang menjajakan Shinta melalui aplikasi daring.

Dalam pengakuannya kepada polisi, FS mengaku sakit hati karena korban kerap memarahinya, bahkan memukul kepalanya saat mereka berboncengan sepeda motor menuju kawasan Puncak untuk menemui pelanggan.









Pertengkaran memuncak di atas Jembatan Cipendawa. Dalam kondisi emosi dan di bawah pengaruh alkohol, FS mendorong tubuh Shinta dari ketinggian 15 meter ke dasar sungai.

Namun, saat melihat korban masih hidup, pelaku turun membawa batu seberat 5 kilogram dan menghantam kepala korban hingga tewas3. Ia kemudian melucuti pakaian korban dan membawa kabur perhiasan serta ponsel milik Shinta, dengan harapan jasadnya hanyut dan tak dikenali.

Pelarian FS berakhir delapan hari kemudian. Ia ditangkap di persembunyiannya di kawasan Avapark, Jatisampurna, Kota Bekasi, tanpa perlawanan.

Polisi menjeratnya dengan pasal berlapis, pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasan, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup3.

Kasus ini membuka tabir gelap praktik prostitusi daring yang kian marak di balik layar aplikasi pertemanan. Lebih dari sekadar kriminalitas, tragedi ini mencerminkan rapuhnya relasi kuasa, ekonomi, dan emosi dalam dunia yang serba instan.

Sungai Cipendawa kini tak hanya mengalirkan air, tapi juga menyimpan jejak luka yang tak mudah hilang. Di balik gemericik arusnya, ada jeritan yang tak terdengar—jeritan seorang perempuan yang hidupnya direnggut oleh orang yang ia kenal.