Bacatrend, Jombang — Di balik dinding rumah kontrakan sederhana di Dusun Karangtengah, sebuah kisah menyeruak, lebih dingin dari tubuh yang sudah kehilangan napas. Fauziah Prihatiningsih (47), perempuan yang selama ini tampak biasa di mata tetangga, menyimpan rahasia yang mustahil dibayangkan: ia tidur bersama suaminya selama satu minggu penuh dalam satu rumah.

Jasad itu bukan sekadar korban kematian. Ia—Haji Lukman (45)—adalah suami sirinya. Dan menurut pengakuan Fauziah, racun dalam sebotol air menjadi awal dari semua kehancuran.

“Awalnya dia takut ketahuan,” tutur AKP Margono Suhendra, Kasatreskrim Polres Jombang, Kamis (26/6). “Tapi setelah 42 hari, dia mengaku tidak tenang menjalani hidup. Dia datang sendiri dan menyerahkan diri.”

Hasil penyelidikan mengungkap bahwa selama tujuh hari pertama usai pembunuhan, Fauziah tetap tinggal di rumah yang sama, bahkan berbagi ruang dengan mayat yang hanya tertutupi selimut dan kasur. Aroma kematian semakin menyengat. Rumah itu sunyi, tapi jiwanya gemuruh.









Ketika bau busuk tak lagi bisa ditutupi, Fauziah berpindah sementara ke rumah kerabat di Kesamben. Meski demikian, ia tetap pulang sesekali—kadang untuk menjenguk rumah, kadang pula untuk menjual beberapa perabot kepada tetangga. Yang tak diperbolehkan adalah masuk ke dalam. “Ada tikus mati,” begitu alasannya kepada warga.

Polisi menyatakan, pembunuhan ini bukan sekadar tindakan spontan. Ia dirancang secara perlahan. Sejak Mei 2014, kehidupan rumah tangga pasangan ini telah retak karena dugaan kekerasan domestik. Hingga akhirnya, pada 11 Mei 2025, Fauziah membeli racun tikus dan tujuh butir potasium dari toko pertanian.

Tanggal 13 Mei, racun dimasukkan ke dalam botol air yang biasa diminum Lukman. Sehari berselang, air itu diteguk. Efeknya cepat. Tubuh lemas, kesadaran merosot. Melihat sang suami tak berdaya, Fauziah memindahkannya ke kamar, bahkan meminta bantuan tetangga sembari mengaku Lukman hanya mabuk.

Kejutan datang saat autopsi dilakukan. Ternyata, racun bukan satu-satunya penyebab kematian. Di bagian belakang kepala terdapat luka akibat hantaman keras. Di bawah dada, luka tusuk menandai akhir dari segala amarah dan luka yang membatu.

“Dia tahu kalau cepat atau lambat kebenaran akan terungkap,” ujar Margono.

Selama 40 hari lebih, rumah itu menyimpan dua hal: tubuh yang membusuk dan hati yang membatu. Dalam sunyi, Fauziah tidur berdampingan dengan diam yang tak bisa lagi menjawab.