Bacactrend, Bandung – Di semesta maya yang dingin dan tak berpeluk, cinta masih mencoba mencari ruang. Di sanalah Namira—mahasiswi asal Yogyakarta—menemukan sosok yang katanya pernah menyentuh denyut terakhir seorang pasien, menyeka peluh dari dahi ibu melahirkan, dan berdiri di ambang batas antara hidup dan mati. Seorang dokter, katanya. Penyelamat jiwa.

Tapi ternyata, yang ia sembuhkan hanyalah rasa sepi—dan yang ia hancurkan: rasa percaya.

MSP (29), pria Bandung yang kesehariannya hanya bergumul dengan Oxford Dictionary dan lembar kerja siswa, menyulap identitasnya menjadi perwujudan impian: dokter muda yang katanya mengabdi di salah satu rumah sakit Yogyakarta. Ia tidak datang membawa stetoskop, tetapi rentetan kalimat manis yang disulam rapi di layar ponsel. Kata-kata yang tak sekadar memikat, tapi menyihir.

Dan Namira luluh. Siapa yang tak akan luruh, ketika seseorang mengaku hanya memiliki kita di tengah dunia yang konon telah mencampakkannya?









Menurut keterangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda DIY, jejak-jejak digital yang ditinggalkan MSP menjelma bukti. Chat, transfer, tangkapan layar: serpihan-serpihan kebohongan yang diam-diam disusun seperti orkestra penipuan. Ia tak hanya berbohong soal profesi, tapi juga memanipulasi emosi dengan cerita dramatis—tentang pasien sekarat yang mengingatkannya pada ibunya yang sudah tiada, dan tentang hidup yang terlalu kejam bagi hati sebaik dirinya.

“Dia bilang, hanya aku yang membuatnya ingin bertahan,” tulis Namira, seperti membisikkan penyesalan pada angin. “Tapi ternyata, aku hanya satu nama dalam daftar panjang korbannya.”

Love scamming memang tak memakai senjata, tapi luka yang ditinggalkannya kerap lebih dalam dari peluru. Tak ada paksaan, hanya persetujuan yang dipetik dari kelembutan. Tak ada todongan, hanya harapan yang perlahan dilucuti.

Menurut kriminolog UGM, Dr. Lintang Soewondo, fenomena ini kian menjalar karena kita hidup di era “kelaparan emosi”—di mana sepi bisa terasa lebih nyaring dari keramaian. “Yang dijual bukan tubuh atau waktu,” ujarnya, “melainkan mimpi akan kebersamaan. Dan itu yang membuat korban rela menyerahkan segalanya—dengan senyum.”

Saat akhirnya MSP digiring petugas, ia masih menulis pesan baru—kepada korban berikutnya. Di balik layar, tipu daya berulang. Dan dunia digital kembali sunyi, menyembunyikan ribuan cinta palsu yang menggantung di awan server.