Pantai Papuma, Melodi Laut yang Membius Waktu
Bacatrend, Jember – Jika bumi punya bisikan lembut, maka Pantai Papuma adalah nadanya. Terhampar di pesisir selatan Jember, Jawa Timur, Papuma bukan sekadar pantai—ia adalah puisi yang ditulis angin dan dibacakan oleh debur gelombang.
Di ufuk timur, mentari muncul seperti lukisan yang hidup. Fajar menjelma emas cair, menyapu pasir seputih bisikan doa.
Di kejauhan, tujuh karang raksasa berdiri kokoh, seolah bekas telapak kaki dewa yang turun menginjak bumi. Setiap batu punya nama, setiap cekungan punya cerita.
Angin di Papuma tidak hanya berhembus, ia bernyanyi. Lagu-lagu lama tentang laut yang jatuh cinta pada daratan, tentang perahu-perahu nelayan yang menari di antara ombak.
Dan burung-burung? Mereka bukan sekadar makhluk bersayap. Mereka utusan langit, penari latar dari panggung biru samudra.
Saat senja menggantung di cakrawala, warna merah jambu dan ungu menyatu seperti lukisan basah di kanvas langit. Suara ombak yang pecah di karang mengiringi detik demi detik yang seakan lupa berjalan. Waktu, di Papuma, tidak berdetak—ia berdesir.











Tinggalkan Balasan