Bacatrend, PANARUKAN – Laut tak hanya menyimpan garam, ombak, dan ikan. Laut juga menyimpan duka. Dan kali ini, lautan Panarukan memeluk erat satu jiwa yang tak sempat kembali: M Zainul Hasan (30), lelaki nelayan yang mengukir jejak terakhirnya pada gelombang Jumat pagi yang sunyi.

Sejak pertama kabar hilangnya Zainul mencuat, lautan seperti menahan napas. Udara di Panarukan mendadak berat. Keluarga, nelayan, hingga warga desa Dawuhan menggantungkan harap di cakrawala. Semua berdoa agar ombak mengembalikan apa yang telah Ia ambil.
Dua hari penuh tim SAR berjibaku. Dengan perahu karet dan keteguhan hati, mereka menyisir lautan yang luasnya seolah tak berujung.

Dua SRU (Search and Rescue Unit) mengoyak gelombang sejauh lebih dari 10 mil laut. Satu inci demi inci, seperti mencari jarum di antara desau angin dan bayang-bayang laut. Di daratan, mata-mata tak lelah menatap horizon, berharap secercah petunjuk.

Dan akhirnya, pagi Minggu, 29 Juni 2025, pukul 06.30 WIB, samudra yang muram itu berbicara.









Zainul ditemukan. Diam. Tak lagi melawan arus. Sosoknya mengambang di perairan Panarukan, sekitar 200 meter dari titik terakhir ia terlihat. Bukan dalam pelukan keluarganya, tapi dalam tenang yang bisu, menyatu dengan laut yang selama ini menjadi sahabat sekaligus musuhnya.

“Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Wahyu Setiabudi, Koordinator Pos SAR Banyuwangi, yang juga menjadi On Scene Coordinator dalam operasi ini. Suaranya berat, seolah ikut tenggelam bersama kehilangan yang tak bisa dicegah.

Jenazah Zainul segera dievakuasi ke darat. Langkah-langkah para penyelamat terasa lambat, seperti membawa beban yang lebih dari sekadar tubuh. Itu adalah beban duka, beban gagal menyelamatkan satu jiwa yang terlalu akrab dengan laut.
Di rumah duka, isak tangis pecah seperti badai kecil. Kehilangan ini bukan hanya milik satu keluarga.

Ini luka kolektif—karena Zainul bukan hanya pencari ikan, ia bagian dari denyut hidup pesisir.

Dalam operasi itu, seluruh elemen menyatu dalam satu tekad: tak membiarkan Zainul sendirian di laut. Tim SAR Banyuwangi, TNI AL Panarukan, Satpolairud Situbondo, BPBD, Koramil, Tagana, hingga warga dan nelayan sekitar—semua bahu-membahu, melawan waktu, melawan pasrah.

Zainul pergi saat laut sedang bersahabat. Tapi bahkan laut yang tenang pun bisa menyimpan misteri yang kelam. Jumat pagi itu, ia berangkat dari pantai Cemara dengan perahu sewaan Pak Sueb. Sejak itu, tak ada kabar. Hingga hanya perahu dan topinya yang ditemukan, mengambang sendu, menjadi pertanda bahwa ia telah menjauh—terlalu jauh.

Kini, Zainul telah pulang. Bukan ke dermaga, tapi ke keabadian. Laut telah mengembalikannya. Tapi luka, akan terus tinggal di pantai—di mana anak-anak mendengar kisah bahwa laut, kadang, tak mengizinkan semua nelayan pulang.