Bacatrend, GORONTALO — Di tanah yang dijuluki Serambi Madinah, di mana laut dan ladang bersatu dalam harmoni, lahirlah sebuah hidangan yang tak hanya memanjakan lidah, tapi juga menyentuh batin: Binte Biluhuta.

Dalam bahasa Gorontalo, binte berarti jagung, dan biluhuta berarti disiram. Tapi jangan tertipu oleh kesederhanaan namanya—karena dalam semangkuk milu siram ini, tersembunyi simfoni rasa yang bisa membuat waktu berhenti sejenak.

Bayangkan jagung manis muda yang dipipil, udang segar yang direbus hingga kenyal sempurna, suwiran ikan cakalang asap yang membawa aroma laut, dan kelapa parut sangrai yang menyelusupkan gurih lembut ke dalam setiap sendok.

Semua itu disiram kuah panas berbumbu bawang merah, bawang putih, cabai, dan jahe—lalu ditaburi daun kemangi dan perasan jeruk nipis. Rasanya? Seperti pelukan hangat dari ibu yang lama tak bersua, dengan bisikan laut dan ladang dalam satu tegukan.









Resep Binte Biluhuta (4 porsi):

3 buah jagung manis, pipil

400 g ikan cakalang asap, suwir

200 g udang kupas

3 sdm kelapa parut, sangrai

60 g daun kemangi

3 cm jahe, memarkan

8 bawang merah, 3 bawang putih, 7 cabai merah (haluskan)

1300 ml air

Garam, kaldu, dan jeruk nipis secukupnya

Cara Memasak:

Rebus air, masukkan jagung, bumbu halus, dan jahe. Masak hingga jagung setengah matang.

Tambahkan udang, kelapa sangrai, dan suwiran ikan. Masak hingga matang.

Angkat, masukkan daun kemangi dan perasan jeruk nipis. Sajikan hangat.

Binte Biluhuta bukan sekadar makanan. Ia adalah warisan, adalah doa yang dimasak perlahan, adalah jembatan antara laut dan daratan, antara masa lalu dan masa kini. Satu suap bisa membuatmu lupa bahwa kau sedang berada di abad ke-21—karena rasanya seperti dongeng yang diturunkan dari nenek moyang, dibisikkan lewat uap kuah yang mengepul.

Dan ketika seorang wanita cantik duduk di beranda rumah panggung, menyuapkan Binte Biluhuta ke mulutnya dengan mata terpejam dan senyum kecil di sudut bibirnya—kau tahu, itu bukan hanya makan. Itu adalah perayaan hidup.