Dari Surabaya ke Blitar, Jejak Literasi yang Membunyikan Kembali Genta Bung Karno
Bacatrend, Blitar – Blitar pagi itu tidak hanya dibasuh cahaya matahari musim kemarau, tapi juga oleh semangat ratusan pelajar SMA/SMK yang tengah menapak jejak seorang tokoh besar bangsa: Soekarno.
Langit di atas Istana Gebang terlihat tenang, tapi tanah yang mereka pijak mengandung gelegar sejarah. Seolah Bung Karno sendiri tengah menyaksikan dari balik waktu—menyambut anak-anak bangsa yang datang bukan hanya untuk berfoto, tapi untuk memahami.
Di antara mereka, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin berdiri dengan sorot mata penuh harap. Ia menyambut rombongan pelajar dan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai pewaris amanah sejarah. “Mereka bukan tamu,” ucapnya. “Mereka adalah anak-anak yang datang untuk membaca ulang naskah perjuangan bangsa.”
Tur Literasi bertema “Soekarno dan Surabaya” ini bukan sekadar wisata edukatif. Ini semacam ritual intelektual yang membawa peserta melintasi ruang dan waktu. Dari Rumah Kelahiran Bung Karno di Surabaya, ke jejak H.O.S. Tjokroaminoto, hingga SDN Sulung—di mana mimpi-mimpi seorang anak kecil mulai ditulis dengan kapur dan papan tulis. Dan kini, di Blitar, mereka menjejak makam sang proklamator dengan kepala tegak dan hati tertunduk.
“Bung Karno tidak pernah sekadar berbicara tentang revolusi. Ia menghidupi gagasannya,” kata Eri Cahyadi dalam sambutannya. Kata-katanya bagai percikan api yang menyambar suluh di benak para pelajar. Mereka—yang lahir jauh dari masa revolusi—tiba-tiba merasa punya utang. Bukan utang emas atau tanah, tapi utang pada cita-cita.
Syauqul Muhibbin pun menambahkan gaung peringatan, mengutip pesan Bung Karno yang legendaris: “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Hari itu, jumlahnya bukan 10—melainkan puluhan kali lipat. Dan mereka tidak mengguncang dunia dengan senjata, tetapi dengan kesadaran bahwa sejarah bukan album kenangan, melainkan peta masa depan.
Tur literasi ini kemudian berubah menjadi deklarasi diam-diam: bahwa pemuda Indonesia tidak akan selamanya hanyut dalam layar ponsel dan narasi instan. Mereka ingin menggali, menyelam, dan pulang membawa makna. Mereka tahu bahwa bangsa ini tidak diwariskan untuk sekadar dilihat—tapi untuk diperjuangkan lagi dan lagi.
Mereka tidak hanya mengenang. Mereka bersumpah dalam hati: bahwa suatu hari nanti, nama mereka pun akan ditulis dalam babak-babak penting negeri ini. Bukan karena viral, tapi karena bernilai.











Tinggalkan Balasan