Nasib Artis Fahmi “Gusur” Bo Hidup Sebatang Kara Di Kamar Kos, Diterpa Sakit Stroke hingga Diabetes
Bacatrend, Jakarta – Dulu, ia hadir di ruang keluarga kita setiap malam. Sosok Gusur dalam Lupus Milenia—jenaka, tambun, dan selalu punya celoteh yang mengundang tawa. Tapi kini, Fahmi Bo tak lagi berdiri di bawah sorotan lampu studio. Ia tak lagi disapa kru, tak lagi disambut tepuk tangan. Yang tersisa hanyalah sebuah kamar kos sempit di Jakarta Selatan, empat dinding yang menjadi saksi bisu dari hidup yang perlahan-lahan menyusut.
Sudah lebih dari satu setengah tahun, Fahmi tak pernah keluar dari kamar itu. Bukan karena enggan, tapi karena tubuhnya tak lagi mampu. Stroke yang menyerangnya pada 2018 menjadi awal dari kemerosotan fisik yang tak terbendung. Diabetes, asam urat, pengeroposan tulang—semuanya datang beriringan, seperti konspirasi sunyi yang merampas langkahnya satu per satu2.
Untuk sekadar berjalan ke kamar mandi, ia harus menyeret kakinya. Tangannya meraba dinding, tubuhnya bergantung pada gravitasi dan harapan. “Aku kalau jalan udah kayak anak kecil belajar jalan,” katanya lirih dalam sebuah wawancara. Dunia luar? Hanya bisa ia lihat dari layar ponsel.
Dan di situlah ia bertahan—di TikTok. Bukan sebagai selebritas yang tampil glamor, tapi sebagai pria 52 tahun yang menggantungkan hidup dari gift digital. Setiap hari, ia duduk berjam-jam di depan kamera, menyapa pengikutnya dengan senyum yang lebih banyak menyimpan luka daripada tawa. “Aku dikasih jalan sama Allah, bisa tahu yang namanya TikTok,” ucapnya, seolah mencoba meyakinkan bahwa ini bukan akhir, hanya babak baru yang lebih sunyi.
Kontras ini begitu mencolok jika dibandingkan dengan rekan-rekan seangkatannya. Sementara banyak artis era 90-an kini menikmati masa tua dengan rumah nyaman, bisnis mapan, atau setidaknya keluarga yang mendampingi, Fahmi justru nyaris diusir dari kos karena menunggak empat bulan. Ia sudah pasrah, siap angkat kaki, hingga bantuan datang dari arah tak terduga: Nikita Mirzani. Tanpa diminta, ia membayar kontrakan Fahmi untuk satu tahun penuh. “Enggak akan aku lupa seumur hidup,” ujar Fahmi dengan mata berkaca.
Ia pernah menjadi tukang parkir. Pernah jadi sopir pribadi. Pernah mencoba kembali ke dunia hiburan pada 2020, tapi sesuatu terjadi—sesuatu yang tak ingin ia ceritakan. “Ada satu hal yang sampai sekarang aku belum bisa terima,” katanya, merujuk pada perpisahan dengan sang istri dan renggangnya hubungan dengan anak-anak.
Kini, ia benar-benar sendiri. Tak ada keluarga yang tinggal bersamanya. Tak ada manajer yang mengatur jadwal. Tak ada kru yang menyiapkan wardrobe. Hanya ada ia, tubuh yang melemah, dan layar ponsel yang menjadi satu-satunya jendela ke dunia.
Fahmi Bo adalah potret getir dari industri hiburan yang cepat melupakan. Ia bukan satu-satunya, tapi mungkin salah satu yang paling jujur menunjukkan luka. Ia tak menyalahkan siapa pun. Ia hanya ingin dikenang—bukan sebagai aktor yang jatuh, tapi sebagai manusia yang pernah membuat kita tertawa, dan kini mengajarkan kita arti dari bertahan.











Tinggalkan Balasan