Tanah Warisan dan Luka yang Melebar, Kakek Tega Gugat Cucu!
Bacatrend, INDRAMAYU – Di usia yang seharusnya diisi dengan angka perkalian dan permainan layang-layang, seorang bocah kelas lima SD asal Indramayu harus menghadapi gugatan hukum dari kakek kandungnya sendiri. Namanya ZI, usianya baru 12 tahun, tapi hidupnya sudah dipaksa bersinggungan dengan sengketa warisan yang mengakar dalam nadi keluarga.
Desa Karangsong yang teduh dengan aroma laut dan riuh suara perahu kini menyimpan kisah yang membuat banyak warga menggeleng. ZI, anak yang dikenal pendiam namun pintar di sekolahnya, tercatat sebagai pihak tergugat dalam perkara tanah warisan yang kini bergulir di Pengadilan Negeri Indramayu. Ironisnya, penggugat adalah kakeknya sendiri.
Tanah yang menjadi inti sengketa bukan sebidang lahan luas bernilai fantastis, melainkan warisan turun-temurun yang diakui telah ditempati keluarga ZI secara sah sejak lama. Menurut berbagai sumber warga, konflik ini memuncak setelah terjadi ketidaksepakatan dalam pembagian aset keluarga, yang berbuntut panjang hingga ke meja hijau.
Namun yang mengusik nurani publik bukan sekadar soal hukum, melainkan fakta bahwa seorang anak harus menghadapi konflik antar-generasi yang sarat emosi dan tekanan. Di usia belia, ZI menjadi simbol dari generasi yang terseret pusaran ketidakdewasaan orang-orang dewasa dalam mengelola warisan.
Banyak kalangan mulai bersuara. Aktivis perlindungan anak, pemerhati hukum, hingga tokoh masyarakat menilai kasus ini sebagai preseden yang menuntut kepekaan hukum—bahwa perlindungan psikologis anak harus lebih diprioritaskan ketimbang kepentingan material.
“Ini bukan sekadar gugatan tanah, ini luka keluarga yang sedang dibuka di ruang publik,” kata seorang tokoh pemuda Karangsong yang enggan disebutkan namanya. “Seharusnya konflik warisan diselesaikan dengan musyawarah, bukan membenturkan cucu dengan kakeknya di pengadilan.”
Di balik diam ZI, ada dunia kecil yang tercabik. Sekolah tempat ia belajar, rumah tempat ia bermain, kini berubah menjadi arena bisik-bisik tentang masalah yang bahkan belum mampu ia pahami sepenuhnya. Bagi masyarakat Karangsong, pertikaian ini tak hanya mengguncang satu keluarga, tapi juga menyentuh harga diri kampung tentang cara menyelesaikan perkara dalam semangat kekeluargaan.










Tinggalkan Balasan