Bacatrend, PADANG – Dunia Hengki Saputra tidak padam karena usia, tidak pula karena takdir. Dunia itu dirampas perlahan, dimulai dari sebuah gigi miring yang tak seberapa.

Gigi yang menyentuh langit-langit mulut, menggigit harapan, membawa sariawan yang tak kunjung sembuh, dan akhirnya menuntunnya ke ruang hampa tanpa warna.

Ia bukan tokoh fiktif, bukan legenda tragis. Ia seorang lelaki bengkel, yang tangan dan pikirannya dulu akrab dengan gemeretak mur dan dengung mesin. Tapi satu keputusan kecil—mencabut gigi di sebuah klinik di Pariaman—mengubah semua yang ia tahu tentang terang.

Tak sampai sepekan, tubuh Hengki demam. Kepalanya berdentam seperti ada gendang perang yang dipukul tanpa ampun. Pandangan matanya kabur, lalu hilang, seperti senja yang lupa datang. Hitam. Bukan puisi, bukan kiasan. Hitam yang absolut, menelan seluruh hidupnya dalam sekejap mata.









Di ruang pencabutan itu, darah mengucur deras. Dokter dua kali berhenti, seolah kelelahan bukan karena prosedur, tapi karena medan tempur yang dipilihnya.

Ibunya, Nurhasni, masih bisa melihat jelas bagaimana putranya berubah dari pemuda cekatan jadi tubuh yang makin dingin. Klinik memberi santunan sebesar satu juta rupiah. Uang yang jumlahnya tak sanggup membeli satu kilau cahaya yang hilang dari retinanya.

Keluarga tak tinggal diam. Laporan polisi dilayangkan, keadilan dikejar. Tapi apa daya, kertas yang diminta untuk ditandatangani justru kosong. Lembar tanpa kalimat, tanpa janji, tanpa harapan.

Dan dari situlah semuanya berhenti. Kasus dinyatakan tak berlanjut. Tidak ada pelaku, tidak ada penyelidikan, hanya sunyi yang menjalar dan menetap.

Kini, Hengki hidup dalam redup yang tak punya saklar. Ia tak tahu rupa pagi, tak bisa melihat air mata ibunya yang jatuh diam-diam setiap malam.

Bengkel warisan ayahnya terbengkalai, karat menjalar di setiap sudutnya—seolah ikut bersedih dalam diam. Lima belas emas dijual untuk pengobatan, tapi bahkan kilau logam tak mampu menembus kegelapan yang telah memeluk matanya.

Dan beginilah hidup Hengki: mendayu dalam gelap, terombang di tepi sunyi yang tak ia pilih. Bukan karena ia kalah, tapi karena sistem membiarkan langkah ceroboh mencabut lebih dari sekadar gigi—ia mencabut masa depan.

Penjelasan Medis dan Fakta Kasus Hengki Saputra

Kasus kebutaan yang dialami Hengki Saputra (30), warga Koto Tabang, Ampalu, Sumatera Barat, usai menjalani pencabutan gigi di sebuah klinik gigi di Kota Pariaman, memicu kekhawatiran publik. Hengki mengalami gejala demam, sakit kepala, dan gangguan penglihatan yang berujung pada kebutaan total beberapa hari setelah prosedur dilakukan.

Secara medis, pencabutan gigi tidak memiliki hubungan langsung dengan saraf mata. Menurut dr. Muliani Sukiman, saraf gigi dan saraf mata memang berasal dari sistem saraf kranial, namun tidak saling terhubung secara fungsional. “Tidak benar bahwa cabut gigi geraham dapat menyebabkan masalah pada mata seperti kebutaan,” ujarnya.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa infeksi gigi yang parah dapat menyebar ke jaringan sekitar, termasuk ke area mata. drg. Munawir Usman, M.AP, dari RS Undata Palu, menjelaskan bahwa peradangan pada jaringan pulpa atau periodontal bisa menyebar ke organ mata dan memicu komplikasi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam American Glaucoma Society juga menunjukkan bahwa penyakit gusi dapat meningkatkan risiko glaukoma, yang berpotensi menyebabkan kebutaan.

Meski demikian, dalam kasus Hengki, hasil radiologi menunjukkan adanya tumor otak sebagai penyebab utama kebutaan. “Dokter ahli menyatakan, korban memiliki tumor otak yang berpengaruh pada saraf penglihatan,” kata Ipda Optah Jhonedi, Kanit II Satreskrim Polres Pariaman.

Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa pencabutan gigi harus dilakukan dengan prosedur yang tepat dan kondisi pasien harus diperiksa secara menyeluruh. Masyarakat diimbau untuk tidak menunda perawatan gigi karena mitos yang tidak berdasar, namun tetap waspada terhadap gejala pasca tindakan medis.