Bacatrend, Jakarta — Penyakit asam lambung atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) kini makin banyak diderita masyarakat Indonesia, terutama generasi muda yang kerap melewatkan makan, mengalami stres, dan gemar mengonsumsi kopi serta makanan pedas.

GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat lemahnya katup penghubung antara lambung dan tenggorokan (LES/Lower Esophageal Sphincter). Jika tidak segera ditangani, GERD bisa menyebabkan komplikasi serius, bahkan berujung pada kanker kerongkongan.

“Banyak yang anggap sepele gejala seperti dada panas, mual, dan mulut terasa pahit. Padahal itu bisa jadi tanda GERD,” ujar dr. Citra Anindya, SpPD, dokter spesialis penyakit dalam di Jakarta.

Beberapa ciri khas GERD antara lain sensasi terbakar di dada (heartburn), sendawa terus-menerus, rasa asam atau pahit di mulut, batuk kering di malam hari, hingga rasa mengganjal saat menelan. Gejala umumnya memburuk saat penderita langsung tiduran setelah makan besar.









Penderita GERD yang dibiarkan tanpa penanganan medis berisiko mengalami luka pada kerongkongan (esofagitis), penyempitan saluran makanan, bahkan gangguan pernapasan.

Dalam kasus kronis, kondisi ini bisa berkembang menjadi Barrett’s Esophagus, yang meningkatkan potensi kanker.
Populasi paling rentan meliputi orang dengan obesitas, perokok, wanita hamil, hingga mereka yang gemar konsumsi kafein, alkohol, serta makanan berminyak.

Untuk mencegah dan mengatasi GERD, dokter menyarankan perubahan gaya hidup sebagai kunci utama. Antara lain dengan makan dalam porsi kecil namun sering, tidak langsung tiduran setelah makan, serta menghindari makanan pemicu seperti gorengan, cokelat, dan kopi. Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi juga dianjurkan untuk mengurangi gejala malam hari.

Selain itu, konsumsi obat seperti antasida, H2 blocker, atau proton pump inhibitor (PPI) bisa direkomendasikan dokter untuk meredakan gejala. Namun, pengobatan mandiri sebaiknya dihindari tanpa pengawasan medis.

“Stres juga memperparah kondisi GERD. Karena itu penting untuk mengelola stres lewat aktivitas relaksasi seperti meditasi atau olahraga ringan,” tambah dr. Citra.

Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala-gejala ringan. Jika heartburn atau rasa tidak nyaman di perut atas berlangsung lebih dari dua minggu, sebaiknya segera periksa ke dokter.

GERD bukan penyakit sepele. Penanganan sedini mungkin bisa mencegah komplikasi jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup penderita.