Bacatrend, JOMBANG – Hari ini, sebuah bab baru dalam dunia pendidikan Indonesia resmi dimulai, Sekolah Rakyat (SR) membuka pintunya untuk pertama kalinya.

Dengan hati-hati penuh harapan, para siswa dari berbagai latar belakang mulai menjejakkan kaki di ruang belajar yang dirancang bukan untuk mereka yang mampu, tapi untuk mereka yang pantang menyerah.

Di tengah kota kecil yang biasa terlewat dari peta pendidikan arus utama, Sekolah Rakyat menawarkan sesuatu yang langka, pendidikan tanpa bayaran, tanpa batasan seragam, dan tanpa pungutan embel-embel.

Sebuah oasis bagi keluarga yang selama ini menggigit realitas keras—bahwa sekolah berkualitas sering kali berarti biaya tak terjangkau.









Di antara deretan wajah yang malu-malu menyapa dunia baru, terdapat mereka yang membawa mimpi lebih besar dari kantong ayah mereka. Anak-anak buruh, anak tukang jahit sepatu, anak petani, semua kini duduk satu meja dengan semangat yang sama: ingin belajar, ingin berubah.

Para pendamping, tokoh masyarakat, dan penggerak lokal menyambut mereka bukan sekadar dengan daftar nama, melainkan dengan janji: bahwa Sekolah Rakyat adalah tempat di mana mimpi tidak dinilai dari dompet. Beberapa bahkan membawa pesan dari lurah dan perangkat desa, sebagai bentuk solidaritas yang jarang tampak dalam sistem pendidikan formal.

Hari pertama ini mungkin tampak sederhana bagi mata luar. Gedungnya tidak megah, fasilitasnya belum sempurna. Tapi dalam senyap, hari ini menandai awal dari perjuangan panjang untuk meruntuhkan tembok eksklusivitas pendidikan. Dari kelas pertama yang digelar, dari pena pertama yang menari di buku catatan bekas, Sekolah Rakyat sedang menulis sejarahnya sendiri.

Bukan sekadar institusi pendidikan, tapi simbol perlawanan terhadap ketimpangan. Di sini, harapan yang selama ini nyaris padam kembali menyala. Dan anak-anak seperti Muhammad Rafi, yang pagi ini berdiri di depan kelas dengan mata penuh ambisi, tahu persis: mereka tidak sendirian. Hari ini, Sekolah Rakyat tidak hanya mulai. Ia bangkit.

Kepala Sekolah Rayat UPTD SKB, Mojoagung, Jombang, Andik Minarto mengatakan ada sekitar 100 anak didik yang ada dibawah bimbingannya. ke 100 siswa itu terbagi atas 36 siswa laki-laki dan 64 siswa perempuan.

“50 siswa untuk tingkat SMP dan 50 siswa untuk tingkat SMA,” ujarnya, Senin (14/7).