Kisah Anak Tukang Sol Sepatu yang Bermimpi Sekolah Sampai S2 Di Sekolah Rakyat
Bacatrend, Jombang – Di tengah kepulan debu Pasar Tapen, di antara tumpukan sandal rusak dan sepatu bolong, tangan Hosman (61) tak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Dengan jarum lengkung dan benang keras, ia menyulam asa dari sol yang nyaris putus. Pendapatannya kadang tak lebih dari Rp30 ribu sehari—tiga pasang sepatu dibayar murah, tapi cukup untuk sekadar makan dan mimpi.
Hosman bukan siapa-siapa di mata dunia. Ia cuma seorang penjahit sepatu di pasar desa, warga Dusun Tapen, Desa Pagendingan, Jombang, yang nyaris tak dikenal. Tapi dari tangannya yang kapalan itu, lahir seorang bocah lelaki bernama Muhammad Rafi. Usianya baru 15 tahun. Ia baru saja lulus dari SMPN 1 Kudu tahun 2025, dan hidupnya kini berada di persimpangan antara kenyataan getir dan impian setinggi langit.
“Pengennya sekolah tinggi,” kata Rafi lirih, matanya berbinar. “Kalau bisa, sampai S2. Pengen jadi pengusaha barang, makanan… yang penting bisa bantu ekonomi keluarga.”
Sekolah Gratis yang Datang dari Langit
Impian Rafi nyaris kandas. Setelah lulus SMP, tak ada bayangan bisa sekolah lagi. Seragam tak terbeli, formulir pendaftaran pun tak mampu dibayar. Tapi suatu siang, ibunya datang sambil membawa kabar—seperti angin dari langit. Ada info dari kelurahan: sekolah gratis, namanya Sekolah Rakyat.
Sekolah Rakyat bukan sekolah biasa. Tak ada pungutan sepeser pun. Seragam disediakan. Makan ditanggung. Bahkan siswa bisa menginap. “Dikasih tahu sama pendamping, lewat pak lurah,” cerita Hosman. Matanya berkaca, suaranya bergetar.
“Anakku ini pengen sekolah, saya doakan terus. Tapi dari mana biaya? Alhamdulillah, sekarang bisa lanjut.”
Harapan dari Ruang Kecil
Rafi bukan anak yang mudah menyerah. Ia suka olahraga, terutama body building. Tapi yang paling ia sukai adalah belajar. Belajar apa pun. Asal bisa terus menuntut ilmu, ia siap.
“Yang penting sekolah tinggi, asal tetap gratis,” ucapnya polos. Di balik kepalanya yang dicukur pendek, ada mimpi besar yang menyala-nyala. Ia tak ingin jadi korban putus sekolah seperti anak-anak lain di kampungnya. Ia ingin membuktikan bahwa anak penjahit sepatu pun bisa menggenggam gelar magister dan membangun bisnis.
“Bukan untuk gaya-gayaan. Tapi biar bapak enggak kerja berat lagi. Biar hidup kami berubah.”
Sekolah Rakyat, Secercah Cahaya
Sekolah Rakyat menjadi oase di tengah padang pasir kemiskinan. Lembaga ini hadir diam-diam, tapi menyentuh begitu banyak mimpi yang sempat layu. Tak hanya menerima siswa miskin, tapi benar-benar memeluk mereka—dengan fasilitas yang manusiawi, bukan seadanya.
Di antara ratusan siswa yang kini ditampung, nama Rafi hanyalah salah satu. Tapi kisahnya menggambarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: bahwa pendidikan masih bisa menjadi penyelamat. Bahwa ketika negara lambat bergerak, masih ada orang-orang yang membuka ruang belajar untuk anak-anak tak berdaya.
Muhammad Rafi mungkin bukan siapa-siapa hari ini. Tapi siapa tahu, 10 tahun dari sekarang, namanya terpampang di label produk makanan nasional, atau tertera di gelar akademik kampus ternama.
Dari bawah meja sol sepatu ayahnya, dari tenda sekolah rakyat yang sederhana, mimpi itu sedang merambat pelan-pelan menuju kenyataan.











Tinggalkan Balasan